Hadiah Terindah untuk Umat Manusia

Sesungguhnya ada suatu nikmat yang agung, yang Allah ‘Azza Wa Jalla berikan kepada orang-orang yang tertentu saja dan tidak memberikannya kepada selainnya...

Aliran-Aliran Pemikiran dalam Islam

Pada artikel ini kita akan membahas beberapa aliran atau firqoh yang ada didalam agama islam

Ketika Tokoh Syi'ah Indonesia Mencela Aisyah

Masih banyak orang yang meragukan kesesatan syiah, sampai berujung tuduhan "Wahabi" kepada setiap orang yang menjelaskan kesesatan syiah. Sampai orang yang mencela wahabi pun dituduh wahabi hanya karena menyampaikan kesesatan syiah.

Terbaru!!! Korban keganasan rokok!

Pada tanggal 11 Mei 2016 dunia Facebook kembali dikejutkan dengan berita jatuhnya korban keganasan rokok. Sebuah akun Facebook yang bernama “Alessandrini Vachel Sinclair” menceritakan sebuah musibah...

Kesesatan Arab Saudi

Arab Saudi yang dianggap sesat. Benarkah??

Thursday, 28 September 2017

Pembagian Jenis Air Berdasarkan Penggunaan Dalam Thahārah (Bagian 2)


👤 Ustadz Fauzan ST, MA
📗 Matan Abi Syuja' | Kitab Thahārah
🔊 Kajian 06 | Pembagian Jenis Air Berdasarkan Penggunaan Dalam Thahārah (Bagian 2)
~~~~~~~
MATAN KITAB:

ثم المياه على أربعة أقسام طاهر مطهر، مكروه وهو الماء المشمس وطاهر غير مطهر وهو الماء المستعمل والمتغير بما خالطه من الطاهرات وماء نجس

Jenis air ada 4 (empat) yaitu:
⑴ Air suci dan mensucikan; ⑵ Air yang makruh yaitu air musyammas; ⑶ Air suci tapi tidak meyucikan yaitu air mustakmal dan air yang air berubah karena kecampuran perkara suci; ⑷ Air najis.

(Fiqh At-Taqrīb Matan Abū Syujā')
➖➖➖➖➖➖➖➖

PEMBAGIAN JENIS AIR BERDASARKAN PENGGUNAANNYA DALAM THAHĀRAH (BAGIAN 2)

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
ألسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
وَ الصَّلاَةُ وَ السَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللّهِ وَ بَعْدُ.

Para Sahabat sekalian yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'ālā, pada halaqah yang ke-6 ini kita akan membahas macam-macam air berikutnya. Ini adalah pembagian yang kedua. Sebelumnya kita sudah sebutkan pada pembagian yang pertama طَاهِرٌ وَ مُطَهِّرٌ, yang disebut sebagai air mutlak, di mana dia air suci dan mensucikan.

Adapun pembagian yang kedua di sini:

قال المصنف رحمه الله:

Penulis menyebutkan:

((طَاهِرٌ وَ مُطَهِّرٌ مَكْرُوْهٌ اِسْتِعْمَالُهُ وَهُوَ المَاءُ الْمُشَمَّسُ))

((Air yang suci dan dia bisa mensucikan, akan tetapi dia makruh penggunaannya dan disebutkan yaitu air musyammas))

Apa maksudnya air musyammas?

Air musyammas yaitu air mutlak yang berada di dalam bejana logam selain emas dan perak, yang dia terkena terik matahari yang sangat.

Jadi, disyaratkan di dalam madzhab Syāfi'ī ini ada 2 syarat bahwasanya dia dikatakan sebagai air musyammas:

• ⑴ Dia berada di dalam bejana logam selain emas dan perak.

Karena logam-logam tersebut akan terpengaruh oleh sengatan matahari, dimana partikel-partikel dari logam tersebut akan larut dan memberikan mudharat bagi orang yang menggunakannya.

• ⑵ Air tersebut terkena terik matahari yang sangat kuat.

Jadi,

◆ Apabila air mutlak atau air berada dalam logam bejana emas dan perak atau pun selain logam maka tidak dikatakan sebagai air musyammas.

Ataupun,

◆ Berada di dalam daerah yang tidak memiliki terik matahari yang sangat, maka juga tidak dikatakan sebagai air musyammas.

Dan pembagian ini adalah KHUSUS di dalam madzhab Syāfi'ī, di mana jumhur yang lain tidak melihat adanya pembagian air suci dan mensucikan namun makruh penggunaannya.

Di antara dalil-dalil yang digunakan oleh Syāfi'iyyah adalah beberapa hadits yang tidak lepas dari riwayat yang dha'īf. Di antaranya adalah hadits Ibnu 'Abbas, beliau mengatakan:

أَنَّ رَسُوْلُ اللّهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ:  نَهَي عَائِشَةَ رَضِى الله تعالى عَنْهَا عَنِ المُشَمَّسِ, وَقَالَ: إِنَّهُ يُورِثُ البَرَصَ

“Bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam melarang 'Āisyah radhiyallāhu ta’āla 'anha untuk menggunakan air musyammas dan Beliau bersabda: 'Karena air tersebut bisa menimbulkan penyakit kusta (yaitu penyakit barash)'."
(HR Imam Daruquthni dengan derajat hadits yang dha'īf)

Sehingga tidak dapat digunakan sebagai sandaran.

Oleh karena itu pendapat yang rajih adalah pendapat jumhur ulama yang mengatakan bahwasanya:
✓Air musyammas tidaklah makruh.
✓Dia seperti air mutlak yang lainnya yang suci & mensucikan.
✓Setiap orang bisa menggunakannya.

Dan pendapat ini di rajihkan pula oleh Imam Nawawi Asy-Syāfi'ī dalam kitab Ziyādatur Raudhah, beliau berkata:

وَهُوَ الرَّاجِحُ من حَيْثُ الدَّلِيل وَهُوَ مَذْهَب أَكثر الْعلمَاء وَلَيْسَ للكراهية دَلِيل يعْتَمد

"Pendapat ini adalah pendapat yang rajih jika menilik dari dalil yang digunakan. Dan dia adalah madzhab kebanyakan para ulama (mayoritas para ulama). Dan untuk pendapat makruhnya penggunaan air musyammas tidak ada dalil yang bisa dijadikan sebagai sandaran."

Demikian yang bisa kita sampaikan.

وَصَلَّى اللّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْن

Sampai jumpa pada halaqah yang ke-7 tentang air yang berikutnya.
___________________


Sumber : Grup BiAS

Wednesday, 26 July 2017

Pembagian Jenis Air berdasarkan Penggunaannya dalam Thahārah



👤 Ustadz Fauzan ST, MA
📗 Matan Abi Syuja' | Kitab Thahārah
🔊 Kajian 05 | Pembagian Jenis Air berdasarkan Penggunaannya dalam Thahārah
~~~~~~~~~~~~~~~

PEMBAGIAN JENIS AIR BERDASARKAN PENGGUNAANNYA DALAM THAHĀRAH

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله و بعد.

Para ikhwah fiddīn a'āzaniyallāhu wa iyyākum wa akhawāt fillāh,

Pada halaqah yang ke-5 ini kita akan membahas tentang "Pembagian macam-macam air dilihat dari penggunaannya di dalam thahārah".

Berkata Muallif (Pengarang) rahimahullāhu Ta'āla:

((ثم المياه على أربعة أقسام))

((Kemudian pembagian air ada 4 macam))

Pembagian 4 macam ini di dalam mahdzab Syāfi'iyyah, dimana 3 macam adalah masyhūr di kalangan para fuqahā dan 1 macam khusus di dalam madzhab Syāfi'iyyah.

Tiga macam yang masyhūr di dalam pembagian oleh para fuqahā:

⑴ AIR YANG THAHŪR
Yaitu air yang suci dan mensucikan.
Contoh: Air hujan.

⑵ AIR YANG THĀHIR
Yaitu air yang suci namun tidak mensucikan.
Contoh: (-) air teh dan (-) air musta'mal.

⑶ AIR YANG NAJIS
Yaitu air yang terkena benda najis dan air tersebut kurang dari 2 qullah. Atau disyaratkan berubah untuk lebih dari 2 qullah.

Kemudian pembagian yang KHUSUS di dalam madzhab Syāfi'ī yaitu:

⑷ AIR YANG THAHŪR WA MAKRUH
Air yang suci dan mensucikan akan tetapi air tersebut makruh untuk digunakan, yaitu air musyamasy.

Berkata Muallif (Pengarang) rahimahullāhu setelah menjelaskan bahwasanya pembagian air ada 4 macam;

((طاهر ومطهر غير مكروه وهو الماء المطلق))

((Air yang suci dan mensucikan yang dan dia tidak makruh penggunaannya, maka ini adalah air mutlak))

Para ikhwah fiddīn a'āzaniyallāhu wa iyyākum (semoga Allāh memuliakan kita),

Air ini adalah:
√ Air yang digunakan untuk kita bersuci.
√ Air yang dia dapat mengangkat hadats dan menghilangkan najis.
√ Dia adalah air mutlak.

Dan apa itu air mutlak?

Dikatakan para ulama:

◆ كل ماء بقي على وصفه التي خلقه الله عليه

◆ Yaitu setiap air yang dia masih tetap pada sifat aslinya yang Allāh ciptakan dia (air tersebut)."

Maka ini disebut sebagai air mutlak, yaitu setiap air yang dia tetap pada sifat asli yang Allāh ciptakan dia dengannya.

Kemudian, atau kita katakan:

◆ كل ماء نزل من السماء أو نبع من أرض بدون أن يغيره إستخدام البشر و هذا و ماؤه طهور

◆ Setiap air yang dia turun dari langit atau muncul ke permukaan dari bumi dan tidak berubah dengan penggunaan manusia maka ini adalah air yang thahūr (suci dan mensucikan)."

Apa yang dimaksud dengan:

بقي على أصله القطعه

"Dia tetap pada sifat asalnya."

Yaitu maksudnya adalah tidak berubah 3 sifat asli yang terkait dengan warna, maupun baunya, maupun rasanya.

◆ Apabila berubah salah satu saja maka air tersebut berubah dari sifat aslinya sehingga tidak bisa digunakan untuk bersuci.

◆ Apabila berubah karena benda yang suci maka dia menjadi air yang suci dan tidak mensucikan.

◆ Apabila berubah dikarenakan benda yang najis maka dia menjadi air yang najis yang tidak suci dan tidak mensucikan.

Kemudian perlu diketahui bahwa perubahan air disebabkan benda yang suci ada 2 macam;

⑴ Perubahan yang tidak mungkin dihindari.

Seperti misalnya air sungai yang mengalir di tanah atau di batu kapur atau di permukaan lain yang menyebabkan perubahan warna, bau maupun rasanya.

Walaupun berubah akan tetapi air tersebut tetap memiliki predikat thahūr (suci dan mensucikan).

Berbeda apabila perubahan yang kedua yaitu;

⑵ Perubahan yang bisa dihindari.

Seperti air teh, ini bisa dihindari. Maka apabila air kemudian diberi dengan teh dan berubah warna, rasa dan baunya atau salah satunya maka dia menjadi air yang suci namun tidak mensucikan.

Oleh karena itu, air disebut air mutlak adalah air yang apabila kita menyebutkan kepada orang lain "air" maka akan terbetik di dalam pikirannya air yang dimaksud yaitu air yang masih tetap pada sifat penciptaannya yang pertama kali.

Demikian, kita akan lanjutkan pada halaqah berikutnya tentang pembagian yang ke-2 dari pembagian air.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله و صحبه و سلم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
______________________________
📦Donasi Operasional & Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank 451
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004


Sumber: Grup BiAS

===========================
kajian matan abi syuja , macam macam air , fiqh madzab syafi'i , pembagian jenis air untuk bersuci , air suci , 

Thursday, 29 June 2017

Kritik Untuk Film "Kau Adalah Aku Yang Lain"



Sebenarnya jika ingin memberikan pesan moral yang baik, tidak perlu ada adegan bapak "berpeci dan bergamis" yang ngeyel dengan pemikirannya yang terkesan "kolot dan kaku" dalam beragama. Cukup adegan ada warga Nasrani yang sakit didalam ambulan dan warga muslim dengan suka rela memberikan jalan untuk lewat tanpa bersitegang dan perdebatan panjang.
.
Didalam film seakan-akan menggambarkan ada "sebagian" umat Islam yang kolot, kaku dan ekstrim didalam beragama. Sementara umat agama lain sama sekali tidak ada yang seperti itu. Jadi yang ada umat "ekstrim" itu cuma Islam. Sementara umat lain tidak ada yang "ekstrim". Karena jika ada, pasti framing "ekstrim dan kolot" tidak akan diarahkan ke bapak "berpeci dan bergamis" saja.
.
Kita tahu jika pesan yang ingin disampaikan itu baik, tapi kebaikan jika disampaikan dengan cara yang tidak tepat pun akan memberikan efek samping yang buruk. Jika ada cara yang tidak menyinggung semua pihak, kenapa memilih cara yang menyinggung dan memicu pertikaian "sebagian" orang ??
.
Kita semua tahu bahwa konflik agama tengah bergejolak di bumi Pertiwi. Dan kehadiran film seperti ini pasti akan menyinggung "sebagian" kaum muslimin. Sangat tidak bijak jika mengeluarkan film yang menyinggung "sebagian" orang. Lalu orang yang tersinggung memberikan sedikit reaksi, tapi orang yang tersinggung malah mendapatkan stempel yang buruk dan digelari dengan gelar-gelar seperti ekstrim, kolot atau yang semisalnya.
.
Padahal orang yang digambarkan kolot dan ekstrim pun nyatanya memberikan jalan bagi orang yang akan menikah di Gereja ketika mereka berdemo beberapa waktu lalu. Kenapa tidak membuat film tentang ini saja ?
.
Sudahlah jangan memicu sedikit gesekan ditengah konflik yang tengah terjadi. Mengapa senang sekali melihat anak-anak bangsa ini bertikai ?? Mari sama-sama menciptakan kedamaian tanpa menyentil pihak manapun. Semoga film tersebut bisa segera dihapus atau diedit dan dikemas dengan kemasan yang lebih bagus.
.
.
.
..Muhammad Danu Kurniadi..
@danu.mk || al-mudarris.com

=====================

Ada kritikan lain yang akan saya kutip dibawah ini:

MENYIMAK CARA PANDANG POLISI TERHADAP RUMAH SAKIT DAN PETUGAS KESEHATAN MELALUI VIDEO ANTO GALON

Video yang dibuat oleh seseorang bernama Anto Galon dan menjadi terkenal karena diunggah oleh akun Divisi Humas POLRI di facebook dan sekarang ramai dikritik karena tendensinya yang menyudutkan umat Islam itu sebenarnya punya sisi lain, yang tidak kalah kontroversialnya. 

Dalam pandangan saya, video ini tidak hanya menyudutkan umat Islam, tapi sekaligus juga menyudutkan RUMAH SAKIT dan PETUGAS KESEHATAN. 

Justru, adegan yang menyudutkan Rumah Sakit itu tampil lebih dulu daripada penyudutan umat Islam. 

Video ini dibuka dengan adegan ketika satu pasangan suami-istri diantar seorang anggota POLRI membawa anak balitanya ke RS. 
Mereka menuju ke Poli Rawat Jalan RS (bukan UGD) sehingga harus mengambil nomor antrian. Nomor yang didapat adalah nomor 27, padahal saat itu pasien yang mendapat giliran pelayanan baru sampai nomor 11.

Mungkin Sang Bapak merasa anaknya sudah dalam kondisi parah, sehingga ia menemui petugas RS untuk meminta agar anaknya didahulukan. 
Petugas menolak dan mengatakan, "Maaf, Pak. Ini sudah peraturan."

Adegan ini tergambar begitu miris, tragis, dan ironis, ketika seorang pasien anak-anak yang sakit parah harus pasrah menunggu antrian. 

Pembuat video kemudian menampilkan "pahlawan" yaitu seorang pasien dengan nomor urut 12 yang bersedia menukarkan antriannya dengan anak tsb. 

Teman-teman, ada yang melihat keanehan dalam adegan ini? 

Iya, bagi orang yang sehari-harinya tidak berkecimpung di lingkungan RS mungkin tidak segera melihat keanehan ini. 

(1)
Pasien sakit berat/gawat seharusnya mendaftar ke Unit Gawat Darurat (UGD) atau Emergency Unit yang ada di tiap RS. Di UGD TIDAK ADA NOMOR ANTRIAN. 
Pasien akan segera dilayani sesuai tingkat kegawatannya masing-masing, bukan soal siapa yang duluan datang. 

Bagaimana mungkin seorang POLISI tidak bisa membedakan antara Poli Rawat Jalan dan UGD? Bagaimana bisa dia salah mengantar pasien tsb ke Poli dan bukannya UGD? 
Secara tidak langsung, pembuat video ini menggambarkan betapa bodohnya petugas kepolisian di Indonesia. 

Menurut saya sih jelas bukan polisi kita yang bodoh, melainkan pembuat video ini yang 'kurang piknik'. Dia bikin video tapi tidak melakukan riset dulu bagaimana sebenarnya seluk-beluk pelayanan di RS. 

Tapi yang lebih mengherankan, bagaimana bisa sebuah video yang menggambarkan polisi Indonesia jadi tampak bodoh begini memenangkan penghargaan di Police Movie Festival dan mendapat kehormatan diunggah di akun fb Divisi Humas POLRI? 

(2) 
Dan HERO-nya adalah pemilik no.12! Sedangkan petugas RS tergambar bagai iblis yang tidak punya perikemanusiaan! 
Bagaimana seorang PETUGAS KESEHATAN tidak peduli dengan parah-tidaknya kondisi pasien, dan bisanya cuma bilang, "Maaf Pak, ini sudah peraturan."?

Semua RS punya Unit Gawat Darurat, dan gunanya memang untuk mengatasi hal-hal semacam ini. Petugas Kesehatan yang menemui kasus pasien gawat di Poli tinggal bilang saja, "Pak silakan pasiennya dibawa ke UGD, di sana tidak perlu nomor antrian." Gampang, kan?! 
Pasien no.12 pun tidak perlu repot-repot berkorban untuk jadi pahlawan. 

Kejadian sehari-hari yang umum terjadi adalah pasien semacam ini akan diantar petugas kesehatan ke UGD. 
Mas Anto Galon yang bikin video ini pasti tidak tahu karena tidak pernah nongkrong di RS. Dia membuat video hanya berdasarkan khayalan dan prasangkanya sendiri. 

Dan herannya, video tanpa riset yang hanya berdasar khayalan dan prasangka ini bisa menang menjadi JUARA di Police Movie Festival!

#indonesiahebat 

Menjawab wawancara sebuah media, Anto Galon menjawab bahwa ia mendapat ide membuat video tsb ketika menemui kejadian sebuah jalan ditutup karena ada acara pengajian. Lalu terpikir olehnya bagaimana seandainya ada ambulan yang mau lewat. 

Nah. 

Anda bisa memahami bagaimana cara berpikirnya? Apa isi benaknya? 

Ya, isi benak yang dipenuhi prasangka negatif, kemudian diolah dengan khayalan tingkat tinggi, dipadu dengan kemalasan untuk melakukan riset terhadap fakta yang terjadi sehari-hari di sekitarnya. 

Jalan ditutup karena ada kegiatan masyarakat, bukankah itu kejadian lumrah dan sering?! Biasanya juga harus mengurus surat izin dari instansi kepolisian setempat untuk bisa menutup jalan selama waktu tertentu. 
Dan perhatikan, kegiatan apakah yang paling sering menutup jalan? PENGAJIAN-kah? 

Silakan lakukan riset, cari tahu kegiatan apa yang paling sering menutup jalan. 
Kalau dari pengamatan saya sehari-hari, yang paling sering menutup jalan itu adalah kegiatan sosial seperti kawinan, khitanan, agustusan, dll. Hampir tiap bulan ada, bahkan kadang bisa lebih dari sekali. 
PENGAJIAN mah jaraaang. Setahun ada sekali pengajian akbar di satu kampung itu sudah hebaaat. 

Walaupun sering, kegiatan sosial yang menutup jalan itu tidak membuat mas Anto Galon 'ngeh'. Tapi begitu ada satu kali PENGAJIAN menutup jalan, langsung KRIIIIING! Alarm dalam otaknya berdering keras. Sontak terpikir, "Bagaimana kalau ada ambulan mau lewat?"

Cling! Dan jadilah video itu. 

Thing! Dan jadi juara. 

Aduh, saya sih takutnya di masyarakat nanti muncul sangkaan, jangan-jangan memang ada seseorang atau sekelompok orang dalam tubuh kepolisian kita yang cara berpikirnya sejalan dengan orang-orang seperti Anto Galon ini....
Kalau tidak, mustahil videonya jadi juara. 

Baiklah. Mari kita bantu dengan doa. 

Semoga Allah Subhannahu wa Ta'ala melimpahi kita semua dengan ampunan, rahmat, dan hidayah, sehingga bangsa kita senantiasa dijauhkan dari segala bencana, fitnah, dan prasangka buruk antarsesama, seterusnya hingga akhir zaman. Aamiin ya Robbal 'Alamiin. 

Minal aidin wal faizin. 
Mohon maaf lahir dan batin. 

Wallahu a'lam bishshowwab.

(Sumber : belum saya ketahui penulis aslinya siapa)

Tuesday, 23 May 2017

Agamamu Hanya Warisan ?



Jika semua Agama dianggap benar, apa perlunya Neraka diciptakan ?
Jika semua Agama dianggap benar, kenapa Allah tidak menjadikan mereka satu Agama saja ?
Pada hakikatnya, adalah suatu paradoks kalangan pluralis, ketika mereka menyerukan toleransi dan menerima perbedaan, lalu mereka tidak toleran dan tidak terima jika Agama itu berbeda-beda. Mereka memaksa semua Agama yang berbeda-beda itu benar.
.
Kawan, jika kebaikan dan kejahatan semuanya akan berakhir sama saja yakni di surga, Dajjal nanti akan berkata kepada Nabi Isa didepan pintu surga, lihat wahai Nabi Allah, setelah semua perang yang kita lakukan itu, bukankah akhir kita berada ditempat yang sama.
.
Kawan, Allah tidak akan membuat lelucon demikian kepada hamba-Nya.
.
Seorang calon pluralis kecil berkata:
Jalaluddin Rumi mengatakan, "Kebenaran adalah selembar cermin di tangan Tuhan; jatuh dan pecah berkeping-keping. 
Setiap orang memungut kepingan itu, memperhatikannya, lalu berpikir telah memiliki kebenaran secara utuh."
..
Apakah kau terima sobat, jika dikatakan Muhammad mendapat sebagian kebenaran dan sebagian lainya ada pada orang lain.
Bisakah kau bayangkan sobat, Muhammad berperang melawan kafir quraisy yang merupakan sukunya, kaumnya, bangsanya, hanya demi setengah kebenaran yang bisa saja setengah kebenaran lainya ada pada kafir quraisy yang diperangi(nya) sholallahu 'alaihi wassalam (?)
.
Si calon pluralis kecil juga bersabda:
Lantas, pertanyaan saya adalah kalau bukan Tuhan, siapa lagi yang menciptakan para Muslim, Yahudi, Nasrani, Buddha, Hindu, bahkan ateis dan memelihara mereka semua sampai hari ini?
.
Kawan, tentu saja mereka diciptakan Tuhan, dan apakah bukan suatu yang rasional jika Tuhan menciptakan sesuatu tapi tidak meridhoinya, itu rasional kok,.
Seperti Kekafiran dan Keimanan, keduanya adalah terjadi atas Taqdir Allah, tapi Allah ridho dengan Keimanan dan Tidak Ridho dengan Kekafiran,.apa itu suatu masalah ?
Bagi kita mungkin suatu masalah, tapi bagi Tuhan, apakah Tuhan dipersalahkan jika menetapkan seperti itu ?
Siapa kita jadi menilai tindakan Tuhan ?
Bukankah jika kita mengkritik keputusan Tuhan, nantinya akan membuat bingung orang-orang tentang siapa sejatinya yang berkuasa mengatur semesta ini.




================
Anggap saja terlahir sebagai muslim sebagai masa lalumu yang tak indah, tapi bukankah dirimu yang sekarang memiliki pilihan untuk memutuskan akan menjadi apa kau kedepan ?
Atheis, Nashrani, Yahudi, Zoroaster, Majusi, Konghucu dan lainya, It's all about your self, your choice,. Kami tak akan intervensi pilihanmu itu,.deal_

Adapun saya akan sangat bersyukur terlahir sebagai muslim, karena kalaupun terlahir sebagai atheis saya ragu akan cukup cerdas menemukan hidayah dan kebenaran jika semuanya hanya disandarkan pada upaya akal mencari kebenaran.

Jika ditelusuri Jejak hitam ideologi liberal yang langsung dikonfrontasi oleh Islam, maka telah direkam oleh sejarah yang valid ketika Orang-orang kafir Quraisy mencoba negosiasi dengan Nabi;
'' Muhammad Kau sembah tuhan-tuhan kami selama setahun dan kami akan sembah Tuhan mu selama setahun ''.
Maksudnya; 
Mereka menawarkan solusi damai atas konflik horizontal yang tengah terjadi diantara mereka (lantaran dakwah Tauhid Rasulullah) dengan mendorong Nabi mengakui agama mereka benar dan mereka akan mengakui agama yang dengannya Nabi diutus juga benar. sederhananya: semua agama dianggap benar saja, kan beres tidak ada konflik,.
.
Kawan bukankah itu terdengar sama percis dengan apa yang dikatakan orang (liberal) ini::
// Bayangkan jika kita tak henti menarik satu sama lainnya agar berpindah agama, bayangkan jika masing-masing umat agama tak henti saling beradu superioritas seperti itu, padahal tak akan ada titik temu.
Latar belakang dari semua perselisihan adalah karena masing-masing warisan mengklaim, "Golonganku adalah yang terbaik karena Tuhan sendiri yang mengatakannya".//
.
Mari kita dengar dan simak dengan seksama apa jawaban Rasulullah ketika ditawari solusi damai yang ngelantur seperti itu, Rasulullah menjawab:
Katakanlah, " Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak akan menjadi penyembah apa yang kamu sembah dan kamu tidak akan pernah menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu dan untukku agamaku.
(Al-Kaafiruun 1-4)

Analogi:

Jika seorang pencuri berdebat dengan pemilik barang yang dicurinya tentang siapa yang sebenarnya pemilik barang tersebut, apakah jika Anda datang sebagai wasit akan membenarkan keduanya adalah pemilik sah barang tersebut /?/
Apakah itu akan terlihat sebagai sebuah solusi,, atau pembenaran yang sangat konyol /?/
..
Akan tetapi yang lebih tidak masuk akal adalah, menyamakan atau mendikte individu yang menyembah satu Tuhan dengan individu yang menyembah banyak tuhan keduanya sama-sama benar, kenyataannya individu yang menyembah satu Tuhan akan marah ketika diminta menyembah banyak tuhan begitu juga sebaliknya.
Solusi atas konflik ini bukan mendamaikan keduanya dengan mendoktrin keduanya sebagai agama yang benar, tapi seharusnya mencari tahu apakah Tuhan itu Satu atau Tuhan itu banyak,.
Jika telah diketahui bahwasanya ternyata Tuhan itu Esa, maka masih membenarkan orang yang mengibadati banyak tuhan adalah seperti membenarkan perdebatan Pencuri dan Pemilik Barang yang dicuri bahwa keduanya adalah Pemilik barang yang Sah.
Bukankah itu sama saja dengan melakukan Genosida atas Akal Sehat ?!


Nah, silakan Afi bicara, tapi domain Agama jangan dimasuki, kecuali Afi sudah jadi Ahli Agama pula..


ditulis oleh : Aly Rayhan Al-Mishry.

Sunday, 16 April 2017

Dakwah Salafiyah, Khawarij Terhadap Para Da'i dan Murjiah Terhadap Penguasa



Pernah ana tanyakan permasalahan ini kepada Ustadz Abul Aswad Al-Bayati, BA. Pada saat kajian kitab Mu'amalatul Hukkam.


PERTANYAAN:
Assalamu'alaykum ustadz, hayyakumullah. Pernah disampaikan kepada ana syubhat terhadap dakwah salafiyah ini. Yaitu ungkapan "dakwah salafiyah itu khawarij kepada ulama (maksudnya yang mereka ikuti dari golongan haraki), dan murjiah kepada penguasa". Ungkapan itu keluar dikarenakan banyaknya ulama2 mereka yang kita tahdzir tanpa memberi udzur (sebagaimana klaim mereka), akan tetapi disisi lain kita memberikan udzur yang sangat banyak kepada para penguasa pada kesalahan2 mereka. Adakah jawaban para ulama ttg syubhat ini ? Barakallahu fiikum



JAWABAN
Wa'alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh

Pertama ucapan ini bukan dalil bahkan bertentangan dengan dalil. Dan menunjukkan ketidak fahaman org yg mengucapkannya akan hakikat murjiah dan juga khawarij

Kedua : Sesuatu itu dilihat berdasarkan kesesuaiannya dengan dalil, selama tahdzir yg disampaikan berdasarkan dalil, ilmu maka kita wajib menerimanya meskipun hati kita enggan.

Ketiga : peringatan akan kesesatan sebagian dai yg membawa pemikiran sesat ini dilakukan dalam rangka menjaga umat dari kesesatan dan kesalahan di dalam memahami agama Islam.  Bukan dalam rangka mengikuti hawa nafsu untuk semata-mata mencela.

Demikian pula memberi udzur kepada penguasa selama masih muslim ini juga dilakukan dalam rangka menjaga maslahat umat agar tdk terjadi bencana, kekacauan, pertumpahan darah yg dielu-elukan oleh para khawarij yg siang malam selalu menyeru umat untuk berevolusi serta memberontak. Dalil akan kewajiban menjaga kewibawaan penguasa sangat banyak sekali silahkan dilihat bagian ke-9 dari kajian kita kali ini.

Dua hal ini adalah merupakan sikap dari ahlis sunnah wal jamaah sejak dahulu kala hingga hari ini. Firqah-firqah hampir semuanya bersatu di dalam hal mencaci penguasa dan menyeru umat untuk memberontak dan menimbulkan pertumpahan darah kecuali ahlis sunnah satu-satunya yg tetap berpegang teguh dg sunnah-sunnah Nabi shalallahu 'alaii wa sallam meski kadang tdk sesuai dg kehendak hati. 

Imam Badruddin bin Jama’ah berkata di dalam kitab beliau ketika menyebutkan hak-hak penguasa :
الْحق الرَّابِع: أَن يعرف لَهُ عَظِيم حَقه، وَمَا يجب من تَعْظِيم قدره، فيعامل بِمَا يجب لَهُ من الاحترام وَالْإِكْرَام، وَمَا جعل الله تَعَالَى لَهُ من الإعظام، وَلذَلِك كَانَ الْعلمَاء الْأَعْلَام من أَئِمَّة الْإِسْلَام يعظمون حرمتهم، ويلبون دعوتهم مَعَ زهدهم وورعهم وَعدم الطمع فِيمَا لديهم، وَمَا يَفْعَله بعض المنتسبين إِلَى الزّهْد من قلَّة الْأَدَب مَعَهم، فَلَيْسَ من السّنة.
:Hak keempat ; Agar kita mengetahui besarnya hak penguasa serta wajibnya menghormati penguasa. Penguasa dipergauli dengan pergaulan yang pantas dengan penuh hormat dan pemuliaan karena Allah memuliakan mereka. Oleh karena itu para ulama para imam Islam senantiasa mengagungkan kehormatan penguasa dan senantiasa memenuhi undangan mereka disertai dengan sikap zuhud mereka terhadap harta penguasa. Adapun yg dilakukan sebagian org2 yng mengaku zuhud berupa adab yg buruk kepada para imam Islam (menuduh menjilat pada penguasa-pent) ini bukan merupakan bagian dr Sunnah sedikitpun.” (Tahrirul Ahkam Fi Tadbiri Ahlil Islam : 63)

Wallahu a'lam


Juga ada tambahan penjelasan dari Ust. Dony Arif Wibowo, 

Abu ‘Utsmaan Ash-Shaabuuniy rahimahullahmembawakan riwayat :
وسمعت الحاكم أبا عبد الله الحافظ : سمعت أبا بكر محمد بن أحمد بن بالويه الجلاب يقول: سمعت أبا بكر محمد بن إسحاق ابن خزيمة يقول: سمعت أحمد بن سعيد الرباطي يقول: قال لي عبد الله بن طاهر : يا أحمد إنكم تبغضون هؤلاء القوم جهلاً وأنا أبغضهم عن معرفة. أولاً إنهم لا يرون للسلطان طاعة. والثاني : إنه ليس للإيمان عندهم قدر. والله لا أستجيز أن أقول : إيماني كإيمان يحيى بن  يحيى ولا كإيمان أحمد بن حنبل. وهم يقولون: إيماننا كإيمان جبريل وميكائيل

Dan aku mendengar Al-Haakim Abu ‘Abdillah Al-Haafidh (ia berkata) : Aku mendengar Abu Bakr Muhammad bin Ahmad bin Baaluyah Al-Jalaab berkata : Aku mendengar Abu Bakr Muhammad bin Ishaaq bin Khuzaimah berkata : Aku mendengar Ahmad bin Sa’iid Ar-Rabaathiy berkata : ‘Abdullah bin Thaahir pernah berkata kepadaku : “Wahai Ahmad, sesungguhnya engkau membenci kaum itu (Murji’ah) dengan kebodohan, sedangkan aku membenci mereka berdasarkan pengetahuan. Pertama, mereka adalah mereka tidak memandang adanya ketaatan terhadap penguasa. Dan kedua, mereka memandang tidak adanya kadar/tingkatan bagi keimanan. Demi Allah, aku tidak membolehkan diriku untuk mengatakan keimananku seperti Yahyaa bin Yahyaa, tidak pula seperti keimanan Ahmad bin Hanbal. Adapun mereka mengatakan : keimanan kita seperti keimanan Jibriil dan Mikaaiil” [‘Aqiidatus-Salaf wa Ashhaabul-Hadiits, hal. 64 no. 64; sanadnya shahih].
Asy-Syaikh Naashir bin ‘Abdil-Kariim Al-‘Aql hafidhahullahmenjelaskan point di atas sebagai berikut:
والأصول المشتركة عند جميع أهل الأهواء أنهم كلهم لا يرون للسلطان طاعة، كالمرجئة، والقدرية، والجهمية، والمعتزلة، وأهل الكلام المتأخرين، وخاصة أهل الكلام بالذات، أما من انتسب للكلام كبعض الأشاعرة والماتريدية فقد يقولون بقول السلف في مسألة السلطان، لكن من أصول مذاهبهم أنهم يرون الخروج على السلطان وعدم طاعة السلطان، كذلك من قبلهم الخوارج والسبئية الرافضة ومن سلك سبيلهم كلهم لا يرون للسلطان طاعة، وهذا مبدأ عام عند جميع الفرق إلا النادر، والنادر لا حكم له
“Dan perkara ushuul yang bersifat kolektif ada pada kelompok pengikut hawa nafsu, bahwasannya mereka semua berpandangan tidak adanya ketaatan terhadap penguasa, seperti Murji’ah, Qadariyyah, Jahmiyyah, Mu’tazilah, dan ahlul-kalam belakangan, khususnya ahlul-kalam terhadap Dzat (Allah). Adapun orang yang dinisbatkan pada ilmu kalam seperti sebagian kelompok Asyaa’irah dan Maaturidiyyah, maka mereka berpendapat dengan pendapat salaf dalam permasalahan (ketaatan terhadap) penguasa. Akan tetapi termasuk ushul/pokok madzhab mereka bahwa mereka berpandangan bolehnya keluar/memberontak terhadap penguasa dan meniadakan ketaatan terhadapnya. Begitu pula kelompok sebelum mereka seperti Khawaarij, Sabaiyyah Raafidlah, dan orang-orang yang menempuh jalan mereka; semuanya berpandangan tidak adanya ketaatan terhadap penguasa. Ini adalah prinsip umum yang ada pada seluruh kelompok (ahlul-bid’ah/hawa nafsu) kecuali sedikit sekali, sedangkan yang sedikit ini tidak ada hukum padanya” [sumber : transkrip rekaman audio.islamweb].
Diriwayatkan dari Sufyaan Ats-Tsauriy rahimahullah, ia berkata:
اتَّقُوا هَذِهِ الأَهْوَاءَ الْمُضِلَّةَ " قِيلَ لَهُ: بَيِّنْ لَنَا، رَحِمَكَ اللَّهُ. قَالَ سُفْيَانُ: " أَمَّا الْمُرْجِئَةُ فَيَقُولُونَ: الإِيمَانُ كَلامٌ بِلا عَمَلٍ، مَنْ قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، فَهُوَ مُؤْمِنٌ مُسْتَكْمِلُ الإِيمَانِ، عَلَى إِيمَانِ جِبْرِيلَ وَالْمَلائِكَةِ، وَإِنْ قَتَلَ كَذَا وَكَذَا مُؤْمِنٍ، وَإِنْ تَرَكَ الْغُسْلَ مِنَ الْجَنَابَةِ، وَإِنْ تَرَكَ الصَّلاةَ، وَهُمْ يَرَوْنَ السَّيْفَ عَلَى أَهْلِ الْقِبْلَةِ
“Berhati-hatilah kalian terhadap hawa nafsu yang menyesatkan”. Dikatakan kepadanya : “Terangkanlah kepada kami, semoga Allah merahmatimu”. Sufyaan berkata : “Adapun Murji’ah, mereka berkata : iman adalah perkataan tanpa amal. Barangsiapa yang mengucapkanasyhadu an laa ilaaha illallaah wa anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh (aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya), maka ia mukmin yang sempurna imannya seperti imannya Jibriil dan para malaikat. Meskipun ia membunuh demikian dan demikian, maka ia (tetap) mukmin. Meskipun ia meninggalkan mandi janabah dan meninggalkan shalat. Dan mereka berpendapat bolehnya mengangkat pedang terhadap ahlul-kiblat (kaum muslimin)” [Diriwayatkan oleh Al-Aajurriy dalam Asy-Syarii’ah 3/583-584 no. 2116, Al-Laalikaa’iy dalam Syarh Ushuulil-I’tiqaad no. 1834, dan Ibnu Syaahiin dalam Syarh Madzaahib Ahlis-Sunnah hal. 27 no. 15].
Ada seseorang yang bertanya kepada ‘Abdullah bin Al-Mubaarak rahimahumallah, apakah ia berpemikiran irjaa’ ?. Maka ia (Ibnul-Mubaarak) menjawab:
كَيْفَ أَكُونُ مُرْجِئًا، فَأَنَا لا أَرَى رَأْيَ السَّيْفِ؟ وَكَيْفَ أَكُونُ مُرْجِئًا، وَأَنَا أَقُولُ: الإِيمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ؟
“Bagaimana bisa aku menjadi seorang Murji’ah,sedangkan aku tidak berpendapat bolehnya mengangkat pedang ? Bagaimana bisa aku menjadi seorang Murji’ah, sedangkan aku mengatakan : ‘iman adalah perkataan dan perbuatan’ ?” [Diriwayatkan oleh Ibnu Syaahiin dalamSyarh Madzaahib Ahlis-Sunnah hal. 28 no. 17].
Sufyaan bin ‘Uyainah dan Al-Auzaa’iy rahimahumullahberkata:
إِنَّ قَوْلَ الْمُرْجِئَةِ يَخْرُجُ إِلَى السَّيْفِ
“Sesungguhnya perkataan Murji’ah keluar menujupenghalalan pedang” [Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah no. 363; shahih].
Qataadah rahimahullah berkata:
إِنَّمَا حَدَثَ هَذَا الإِرْجَاءُ بَعْدَ هَزِيمَةِ ابْنِ الأَشْعَثِ
“Paham irja’ itu hanya muncul pertama kali setelah terjadinya fitnah Ibnul-Asy’ats” [Diriwayatkan oleh Ibnu Ja’d dalam Musnad-nya hal. 527 no. 1091, ‘Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah hal. 319 no. 644, dan Al-Khallaal dalam As-Sunnah no. 1252].
Fitnah Ibnul-Asy’ats adalah peristiwa pemberontakan yang dipimpin oleh Ibnul-Asy’ats melawan Al-Hajjaaj bin Yuusuf Ats-Tsaqafiy, yang berakhir dengan kekalahan dan eksekusi Ibnul-Asy’ats pada tahun 82 H.
Dari perkataan salaf di atas, nampak kesamaan antara Khawaarij dan Murji’ah dari sisi muamalah mereka terhadap penguasa. Mereka sama-sama membolehkan pemberontakan dan mengangkat pedang melawan mereka. Inilah perkara ushul yang ada pada setiap ahli-bid’ah sebagaimana dijelaskan Asy-Syaikh Naashir bin ‘Abdil-Kariim Al-‘Aql di atas. Dan inilah pula yang dikatakan oleh sebagian salaf, diantaranya Abu Qilaabahrahimahullah :
مَا ابْتَدَعَ رَجُلٌ بِدْعَةً إِلا اسْتَحَلَّ السَّيْفَ
“Tidaklah seseorang berbuat kebid’ahan kecuali ia akan menghalalkan pedang” [Diriwayatkan oleh Al-Aajuriiy dalam Asy-Syarii’ah 3/580 no. 2106 & 2109; shahih].
مَثَلُ أَهْلِ الأَهْوَاءِ مَثَلُ الْمُنَافِقِينَ، فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى ذَكَرَ الْمُنَافِقِينَ بِقَوْلٍ مُخْتَلِفٍ وَعَمِلٍ مُخْتَلِفٍ، وَجِمَاعُ ذَلِكَ الضُّلالُ، وَإِنَّ أَهْلَ الأَهْوَاءِ اخْتَلَفُوا فِي الأَهْوَاءِ وَاجْتَمَعُوا عَلَى السَّيْفِ
“Permisalan pengikut hawa nafsu seperti permisalan orang-orang munafik. Sesungguhnya Allah ta’alamenyebutkan orang-orang munafik dengan perkataan yang berbeda-beda dan perbuatan yang berbeda-beda, namun semua itu adalah kesesatan. Dan pengikut hawa nafsu berbeda-beda dalam hawa nafsu (yang mereka ikuti), dan mereka semua berkumpul di atas (mengangkat) pedang” [Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul-Auliyaa’, 2/287-288].
Begitu pula yang dikatakan Al-Barbahaariy rahimahullah:
وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأَهْوَاءَ كَلُّهَا رَدِيَّةٌ تَدْعُوْ كُلُّهَا إِلَى السَّيْفِ
“Ketahuilah, sesungguhnya hawa nafsu (pemahaman sesat/bid’ah) seluruhnya jelek. Seluruhnya mengajak pada (penghalalan mengangkat) pedang” [Syarhus-Sunnah, hal. 120 no. 136].
Sebagian salaf bahkan menyebut setiap ahli bid’ah yang menghalalkan mengangkat pedang/senjata kepada penguasa dan kaum muslimin sebagai Khawaarij (meskipun punya platform berbeda seperti Murji’ah, Jahmiyyah, atau yang lainnya).
Dari Salaam bin Abi Muthii’, ia berkata:
رَأَى أَيُّوبُ رَجُلا مِنْ أَصْحَابِ الأَهْوَاءِ، فَقَالَ: " إِنِّي لأَعْرِفُ الذِّلَّةَ فِي وَجْهِهِ، ثُمَّ قَرَأَ: إِنَّ الَّذِينَ اتَّخَذُوا الْعِجْلَ سَيَنَالُهُمْ غَضَبٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَذِلَّةٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُفْتَرِينَ، ثُمَّ قَالَ: هَذِهِ لِكُلِّ مُفْتَرٍ، قَالَ: فَكَانَ أَيُّوبُ يُسَمِّي أَصْحَابَ الأَهْوَاءِ خَوَارِجًا، وَيَقُولُ: إِنَّ الْخَوَارِجَ اخْتَلَفُوا فِي الاسْمِ وَاجْتَمَعُوا عَلَى السَّيْفِ "
“Ayyuub (As-Sikhtiyaaniy) pernah melihat seorang laki-laki dari pengikut hawa nafsu (ahli bid’ah), lalu ia berkata : ‘Sesungguhnya aku mengetahui kehinaan di wajahnya’. Lalu ia membaca ayat : ‘Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak lembu (sebagai sembahannya), kelak akan menimpa mereka kemurkaan dari Tuhan mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang membuat-buat kedustaan” (QS. Al-A’raaf : 152). Kemudian ia berkata : ‘Ini diperuntukkan bagi setiap orang yang melakukan kedustaan’. Ayyuub menamakan para pengikut hawa nafsu sebagai Khawaarij. Ia berkata : ‘Sesungguhnya Khawaarij berbeda-beda dalam nama, namun berkumpul di atas (penghalalan mengangkat) pedang” [Diriwayatkan oleh Ibnu Ja’d dalam Musnad-nya hal. 575 no. 1275, Al-Faryaabiy dalam Al-Qadar hal. 215 no. 375, dan Al-Aajurriy dalam Asy-Syarii’ah 3/581 no. 2111; shahih].
Ketika orang Khawaarij menuduh Ahlus-Sunnah sebagai Murji’ah – dan ini adalah tuduhan jaman purba - , maka Harb Al-Kirmaaniy[1] dalam ushul ‘aqiidah yang dihimpunnya mengatakan:
وأما (الخوارج) : فإنهم يسمون أهل السنة والجماعة : (مرجئة) ، وكذبت الخوارج [في قولهم] ؛ بل هم المرجئة يزعمون أنهم على إيمان [وحق] دون الناس ومن خالفهم كفار
“Adapun Khawaarij, mereka menamakan Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah sebagai Murji’ah. Khawaarij telah berdusta dalam perkataan mereka. Bahkan merekalah Murji’ahyang menyangka diri mereka di atas keimanan dan kebenaran sedangkan orang lain tidak. Siapa saja yang menyelisihi mereka adalah orang-orang kafir” [As-Sunnah min Masaaili Harb bin Ismaa’iil Al-Kirmaaniy hal. 72 no. 117. Lihat juga perkataan yang sama dalam Thabaqaatul-Hanaabilah oleh Abu Ya’laa, 1/73].[2]
Mungkin inilah makna istilah kontemporer yang menjadi trend di lisan sebagian orang bodoh yang jago membeo : ‘Murji’ah ma’al-hukkaam’.[3] Yaitu, tidak memandang adanya ketaatan terhadap penguasa dan/atau membolehkan keluar ketaatan/memberontak dengan mengangkat senjata[4]. Ideologi trademark kelompok Khawaarij. Bedanya, Khawaarij mengiringi dengan pengkafiran, sedangkan Murji’ah tidak. Kemaksiatan perlawanan, pemberontakan, dan menumpahkan darah tidak dipandang Murji’ah sebagai faktor yang dapat mengurangi keimanan mereka. Asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih Al-‘Utsaimiin rahimahullah setelah menyebutkan pandangan Khawaarij dalam perkara kemaksiatan berkata:
وعلى العكس المرجئة، قالوا: إذا فعل المؤمن كبيرة فهو مؤمن كامل الإيمان وإيمانه كإيمان جبريل وأبي بكر
“Dan sebaliknya, yaitu Murji’ah. Mereka katakan : Apabila seorang mukmin melakukan dosa besar, maka statusnya mukmin yang sempurna keimanannya. Imannya seperti iman Jibriil dan Abu Bakr” [Asy-Syarhul-Mumtii’, 4/293].
Oleh karenanya, mereka sangat ringan berbuat kemaksiatan.
Dari sisi ini, maka tepatlah jika dikatakan kepada Khawaarij : “Engkaulah yang justru Murji’ah”.
Semoga ada manfaatnya, wallaahu a’lam bish-shawwaab.
[abul-jauzaa’ – ba’da ashar, somewhere, 18071438].
silahkan baca di
 http://abul-jauzaa.blogspot.co.id/2017/04/murjiah-maal-hukkaam.html