FIKIH

2 Bangkai dan 2 Darah Yang Halal



Oleh : Muhammad Danu Kurniadi

            Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mengharamkan bagi Hambanya yaitu bangkai dan darah, sebagaimana cukup banyak ayat-ayat didalam al Qur’an yang menjelaskan tentang perkara tersebut. Sebagaimana Firman Allah berikut ini :
 إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنزيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلا عَادٍ فَلا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ 
“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. tetapi Barangsiapa dalam Keadaan terpaksa (memakannya) sedang Dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”  [QS. Al Baqarah 2 : 173]

قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنزيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلا عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ   
“Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaKu, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi - karena Sesungguhnya semua itu kotor - atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam Keadaan terpaksa, sedang Dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. [QS. Al An’am 6 : 145]

            Itulah beberapa ayat-ayat al Qur’an yang menyatakan diharamkannya darah dan bangkai kepada kita selaku hambanya yang juga dijelaskan pula didalam QS. Al Maidah 5 : 3 dan QS An Nahl 16 : 115.
            Tetapi didalam sebuah hadits dijelaskan bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengecualikan 2 bangkai dan 2 darah yang diperbolehkan bagi umatnya. Yaitu,
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Dihalalkan bagi kami dua macam bangkai dan dua macam darah. Dua macam bangkai itu adalah ikan dan belalang, sedangkan dua macam darah itu adalah hati dan limpa” [HR. Ahmad no.5690, dan Ibnu Majah no.3314 dan 3218]

Memang didalam hadits tersebut ada perselisihan ulama’ mengenai shahih atau tidaknya hadits tersebut. Ibnu Hajar Al ‘Asqalani mengatakan bahwasannya hadits tersebut terdapat kelemahan didalamnya karena berasal dari riwayat Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari ayahnya dari Ibnu Umar. Dan Imam Ahmad berkata,”Ia seorang munkarul hadits”.
            Tetapi Abu Zur’ah dan Abu Hatim berkata,”Itu adalah hadits mauquf”. Dan hadits ini dinilai shahih secara mauquf oleh Ad Daruquthni, Al Hakim, Al Baihaqi, Ibnul Qayyim, dan Albani. Dan hadits mauquf maka ia mengambil hukum hadits marfu’ karena perkataan para sahabat juga dapat dijadikan dalil. Dan inilah yang dikata Ibnu Hajar dalam At Talkhis Al Habir.
            Dari hadits diatas dapat kita ambil kesimpulan bahwasannya ada dua bangkai yang dihalalkan yaitu bangkai belalang dan ikan dan diharamkan bangkai selain dari kedua hewan tersebut. Hewan yang berdarah jika ingin dimakan maka haruslah disembelih terlebih dahulu pada lehernya atau urat nadinya, sedangkan pada hewan laut / ikan, maka tidak perlu disembelih.Dan yang patut di garis bawahi yaitu yang dimaksud bangkai disini adalah hewan yang mati secara alami atau yang mati tanpa disembelih sesuai syari’at (tertabrak, terjatuh,dll). Jadi meskipun itu adalah bangkai ikan dan belalang tetapi jika keduanya mati karena diracun atau terkena zat-zat berbahaya maka ia diharamkan dimakan karena adanya zat berbahaya atau zat racun tersebut. Dan jika keduanya mati tidak terkena zat-zat berbahaya atau pun tidak karena diracun maka tidak mengapa untuk dikonsumsi / dimakan.
            Juga pelajaran yang dapat kita ambil dari hadits diatas yaitu bahwasannya dihalalkan dua darah yaitu hati dan limpa karena keduanya adalah darah yang tidak mengalir, dan diharamkannya darah mengalir dengan menyimpulkan dari diperbolehkannya dua darah yang disebutkan didalam hadits tersebut juga berdasarkan ayat al Qur’an yaitu,
“…….Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaKu, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir………” [QS Al An’am 6 : 145]

Dijelaskan didalam Tafsir Ibnu Katsir bahwasannya Ikrimah mengatakan
قَالَ عِكْرِمة فِي قَوْلِهِ: {أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا} لَوْلَا هَذِهِ الْآيَةُ لَتَتَبَّعَ النَّاسُ مَا فِي العُرُوق، كَمَا تَتَبَّعَهُ الْيَهُودُ
"sehubungan dengan kata “atau  darah  yang  mengalir”  pada ayat tersebut Bahwa seandainya tidak ada ayat ini, niscaya orang­-orang akan mencari­-cari darah  yang  ada di  semua  urat, sebagaimana  yang dilakukan  oleh orang­-orang Yahudi". 
وَقَالَ قَتَادَةُ: حُرِّمَ مِنَ الدِّمَاءِ مَا كَانَ مَسْفُوحًا، فَأَمَّا لَحْمٌ خَالَطَهُ دَمٌ فَلَا بَأْسَ بِهِ
Juga Qatadah mengatakan, “Diharamkan dari jenis darah ialah darah yang mengalir. Adapun daging yang dicampuri oleh darah, hukumnya tidak mengapa.”

            Mungkin ini saja yang bisa kami sampaikan dalam artikel kali ini, kurang lebihnya mohon maaf. Wallahu Ta’ala a’lam.




Surabaya, 14 Sya’ban 1433 H.. Pukul 16.08 WIB


Sumber :
  1. Kitab Bulughul Marom Min Adhillatil Ahkam karya Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani
  2. Kitab Taudhihul Ahkam min Bulughil Maram karya Syeikh Abdullah bin Abdurrahman Al Bassam.
  3. Tafsir Al Qur’anul ‘Adzim karya Imam Ibnu Katsir.

About Muhammad Danu Kurniadi

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.