FIKIH

SEPATU HAK TINGGI "HIGH HEELS" DALAM TINJAUAN ISLAM




Oleh : Abu Asma Andre
Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh.

Imam Muslim dan Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari Abu Said Al Khudri radhiallahu anhu beliau berkata :
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَانَتْ امْرَأَةٌ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ قَصِيرَةٌ تَمْشِي مَعَ امْرَأَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ فَاتَّخَذَتْ رِجْلَيْنِ مِنْ خَشَبٍ وَخَاتَمًا مِنْ ذَهَبٍ مُغْلَقٌ مُطْبَقٌ ثُمَّ حَشَتْهُ مِسْكًا وَهُوَ أَطْيَبُ الطِّيبِ فَمَرَّتْ بَيْنَ الْمَرْأَتَيْنِ فَلَمْ يَعْرِفُوهَا فَقَالَتْ بِيَدِهَا هَكَذَا وَنَفَضَ شُعْبَةُ يَدَهُ

Dari Abu Said Al Khudri radhiallahu anhu bahwasanya Nabi shalallahu alaihi wa sallam berkata : “ Bahwasanya ada wanita dari Bani Israil yang pendek dan berjalan dengan dua wanita yang tinggi, maka dia mengambil untuk kedua kakinya kayu dan cincin emas yang memiliki tutup, dan dia memberikan wewangian dengan minyak misk. Lalu dia berjalan melewati dua wanita yang tinggi tersebut, dan dua wanita yang tinggi tersebut tidak mengenalnya. “ 


Imam Abdurrazaq dalam kitab beliau Al Mushanaf meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu ia berkata :
كان الرجال والنساء في بني إسرائيل يصلون جميعا، فكانت المرأة لها الخليل تلبس القالبين تطول بهما لخليلها، فألقي عليهن الحيض
“ Dahulu wanita dan laki – laki dari bani Israil shalat bersama – sama. Setiap wanita yang memiliki kekasih, shalat dengan menggunakan kaki palsu agar kelihatan tinggi oleh pasangan mereka, sehingga Allah azza wa jalla menimpakan haidh atas mereka. “ ( HR Imam Abdurrazzaq dalam Al Mushanaf no 5115, di shahihkan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 1/317 )

Dalam riwayat Imam Abdurrazzaq no 5114, dari Aisyah ia berkata :
كان نساء بني إسرائيل يتخذن أرجلا من خشب، يتشرفن للرجال في المساجد فحرم الله عليهن المساجد، وسلطت عليهن الحيضة
“ Dahulu wanita bani israil membuat kaki palsu dari kayu, mereka mengenakannya untuk mengintip laki – laki di tempat ibadah mereka. Maka Allah mengharamkan tempat ibadah untuk mereka dan menimpakan haidh atas mereka. “

Lajnah Daimah ditanya :

Pertanyaan : “ Apa hukum memakai sepatu hak tinggi bagi wanita, menggunakan kutek bagi kaum wanita, manakah yang lebih baik, cat kuku atau daun pacar ? apakah hukumnya menggunakan daun pacar ketika haidh ?

Jawaban : “ Menggunakan sepatu hak tinggi tidak diperbolehkan karena bisa menyebabkan terjatuh bagi wanita yang menggunakannya, sedangkan manusia diperintahkan untuk menjauhi hal – hal yang membahayakan dirinya, berdasarkan keumuman firman Allah azza wa jalla :
وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
" Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan. ( QS Al Baqarah : 195 )

Dan Allah azza wa jalla berfirman :
وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ
" Dan janganlah kamu membunuh dirimu. ( QS An Nisaa’ : 29 )

Juga karena menampakkan tingginya wanita lebih dari yang sebenarnya. Ini juga merupakan penipuan dan upaya untuk menampakkan keindahannya, yang mana wanita muslimah dilarang untuk menampakkannya, berdasarkan firman Allah azza wa jalla :
Katakanlah kepada wanita yang beriman :
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
" Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang ( biasa ) nampak dari padanya dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan ( terhadap wanita ) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. ( QS An Nuur : 31 )

Sedangkan kutek tidak boleh dipakai karena menahan air ketika sedang wudhu dan mandi, yang telah termaktub dalam fatwa terdahulu, sedangkan daun pacar kami tidak mendapatkan larangan memakainya sebagaimana ketika sedang suci." ( Fatawa Lajnah Daimah 5/121 )

Abu Asma Andre
Ciangsana - Cileungsi
27 Jumadil Ula 1433 H

About Muhammad Danu Kurniadi

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.