KISAH DAN SEJARAH

Kisah Nyata : Nasehat Manusia Terbaik Pun Tak Mampu Membasahi Hati



Oleh : Muhammad Danu Kurniadi 


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling ridha terhadap takdir Allah. Beliau adalah teladan, bagaimana selayaknya seseorang bersikap dalam menghadapi ujian hidup. Tapi, beliau juga memiliki sisi manusia umumnya. Merasakan apa yang dirasakan manusia biasa. Beliau merasakan lapar, sakit, perih karena luka dan bersedih.

Di antara peristiwa yang membuat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersedih adalah wafatnya paman beliau, Abu Thalib. Terlebih sang paman wafat dalam keadaan masih memegang agama jahiliyah. Abu Thalib adalah kerabat dan orang terdekatnya. Abu Thalib lah yang mengasuh Nabi sejak berusia 8 tahun. Saat sang kakek meninggal hingga Nabi berusia 40-an tahun. Kedekatan yang luar biasa dengan sang paman terjalin sedari kanak-kanak hingga masa kenabian.

Saat Nabi Muhammad menerima wahyu dan mendakwahkannya. Cinta Abu Thalib kepada anak saudaranya itu tak berubah. Walaupun ajaran yang dibawa sang keponakan bertentangan dengan keyakinannya. “Langkahi dulu mayatku, kalau berani mengganggu keponakanku”, kira-kira seperti itulah bentuk perlindungannya. Ia bagaikan sosok seorang ayah yang melindungi. Tidak heran, Nabi Muhammad sangat menginginkan hidayah untuknya.

Sayangnya, dengan kedekatan yang sekian lama terbangun, kalimat-kalimat tulus Rasulullah tak mampu menjangkau dalamnya lubuk hati Abu Thalib. Ia tetap ragu dan menolak. Demikianlah hidayah. Walaupun seseorang akrab dengan seruan penuh hikmah. Bahkan seruan itu disampaikan berulang-ulang. Dan datang dari lisan yang tak pernah berdusta. Jika Allah Ta’ala tak berkehendak, tak ada seorang pun yang mampu memberi petunjuk. Abu Thalib lebih memilih ajakan taklid yang diserukan setan. Sehingga menyumbat pandangannya dari kebenaran hakiki.

Kemudian kematian pun datang. Rasulullah bersegera menuju rumah sang paman tercinta. Ia bawa serta semua harapan. Agar sang paman menerima dakwahnya di akhir usianya. Sehingga ia pun selamat dari neraka.

Namun, Rasulullah shallallahu bukanlah satu-satunya orang yang hadir. Setan Mekah, Abu Jahal pun turut mendengar berita sekaratnya Abu Thalib. Bertemulah tokoh kebenaran dengan gembong kesesatan dalam satu pertemuan.

Dari Said bin al-Musayyib dari ayahnya, ia berkata, “Menjelang wafatnya Abu Thalib, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang menemuinya. Saat itu beliau melihat telah hadir Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah bin al-Mughirah. Beliau bersabda,

أَيْ عَمِّ، قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللهِ

‘Wahai paman, ucapkanlah laa ilaaha illallaah. Dengan kalimat ini, akan aku bela engkau nanti di sisi Allah.’

Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah menanggapi,

أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ؟

‘Apakah engkau membenci agamanya Abdul Muthalib?’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menawarkan kepada pamannya. Namun kedua orang itu juga terus menimpalinya. Akhirnya Abu Thalib mengatakan kepada mereka, ‘Di atas agamanya Abdul Muthalib’. Ia enggan mengucapkan laa ilaha illallaah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

وَاللَّهِ لأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْكَ

‘Demi Allah, akan kumohonkan ampun untukmu selama aku tidak dilarang.’
Kemudian Allah menurunkan firman-Nya,

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ

‘Tidak patut bagi seorang nabi dan orang-orang yang beriman untuk memohonkan ampunan kepada orang-orang musyrik.’ (QS. At-Taubah: 113).

Allah mengisahkan ayat ini tentang Abu Thalib. Dan untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

‘Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak mampu menunjuki orang yang engkau cintai, akan tetapi Allah-lah yang menunjuki siapa yang Dia kehendaki.’ (QS. Al-Qashash: 56). (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Kitab Tafsir al-Quran, Suratu al-Qashash, 4494 dalam Fath al-Bari).

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata pada pamannya:

قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، أَشْهَدُ لَكَ بِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Ucapkanlah laa ilaaha illallaah, nanti akan kupersaksikan untukmu di hari kiamat.”

Abu Thalib menjawab,

لَوْلَا أَنْ تُعَيِّرَنِي قُرَيْشٌ. يَقُولُونَ: إِنَّمَا حَمَلَهُ عَلَى ذَلِكَ الْجَزَعُ. لأَقْرَرْتُ بِهَا عَيْنَكَ

“Kalau tidak khawatir dicela oleh orang-orang Quraisy. Mereka akan berkata, ‘Abu Thalib mengucapkan itu karena ia panik (menjelang wafat)’. Akan kuucapkan kalimat itu sehingga membuatmu senang.”

Kemudian Allah menurunkan firman-Nya,

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

‘Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak mampu menunjuki orang yang engkau cintai, akan tetapi Allah-lah yang menunjuki siapa yang Dia kehendaki.’ (QS. Al-Qashash: 56). (Riwayat Muslim dalam Kitab al-Iman, Bab Awwalul Iman Qawlu: laa ilaaha illalllaah, 25).


Rasulullah banyak mengalami musibah kehilangan orang-orang yang beliau cintai. Beliau menyaksikan dua orang istrinya wafat sebelum dirinya, Khadijah dan Zainab bin Khuzaimah radhiallahu ‘anhuma. Satu per satu anak-anak beliau wafat mendahului dirinya, kecuali Fatimah. Beliau juga kehilangan sahabat-sahabat dekat semisal Hamzah bin Abdul Muthalib, Abu Salamah bin Abdul Asad, Utsman bin Mazh’un, Saad bin Mu’adz, Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abu Thalib, dll. Radhiallahu ‘anhum. Tapi, musibah kematian Abu Thalib berbeda. Kematian Abu Thalib ini lebih terasa berat. Mengapa? Karena sang paman yang sangat beliau cintai wafat dalam kekufuran. Sedangkan keluarga dan sahabat-sahabatnya tadi wafat dalam keimanan. Beliau -dengan izin Allah- tetap akan berjumpa dengan mereka di telaganya dan di surga kelak. Adapun Abu Thalib, perpisahan dengannya adalah perpisahan untuk selama-lamanya.

Peristiwa wafatnya Abu Thalib ini memberikan pesan yang dalam pada kita bahwa segala perkara itu di tangan Allah. Dia mengetahui yang tidak kita ketahui. Dia mengetahui mata-mata yang khianat dan apa yang tersembunyi di sanubari. Dia tahu, mana orang yang layak mendapat hidayah.

Hikmah yang dapat kita ambil dari kisah di atas di antaranya,
1. Janganlah sekali-kali kita menolak nasehat atau hidayah yang menyapa kita, sebelum Allah benar-benar mencabut nikmat itu dari diri kita dengan kita dihalangi dari menerima nasehat dan petunjuk.

2. Nasehat adalah tanda cinta seorang kepada orang yang dinasehati. Sungguh, menolak nasehat termasuk menyakiti hati orang yang memberi nasehat.

3. Mintalah petunjuk dengan sungguh-sungguh kepada Allah, karena Allah tidak akan pernah menyesatkan hamba-Nya yang benar-benar berharap petunjuk dari-Nya.

Diringkas Dari http://kisahmuslim.com/5876-wafatnya-abu-thalib-kesedihan-mendalam-bagi-rasulullah.html dengan sedikit penambahan dari Muhammad Danu Kurniadi

About Muhammad Danu Kurniadi

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.