FIKIH

Hukum Memelihara Anjing, Haramkah ?



Oleh : Muhammad Danu Kurniadi

          Beberapa waktu lalu ada berita viral tentang wanita bercadar yang memelihara anjing atas dasar kasihan terhadap anjing terlantar yang ia temui dan ia pun berharap mendapatkan pahala sebagaimana hadis seorang perempuan yang masuk surga karena memberi minum air seekor anjing. Namun apakah hukum memelihara anjing bagi seorang muslim ? bolehkah memelihara anjing atas dasar kasihan ? untuk mengetahui jawabannya marilah kita memperhatikan beberapa poin berikut.

Pertama,
Tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk memelihara anjing, kecuali jika dia membutuhkan anjing tersebut untuk keperluan berburu, menjaga hewan ternak atau menjaga pertanian.

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (2974) dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwasannya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda
مَنْ اقْتَنَى كَلْبًا لَيْسَ بِكَلْبِ صَيْدٍ وَلا مَاشِيَةٍ وَلا أَرْضٍ فَإِنَّهُ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِهِ قِيرَاطَانِ كُلَّ يَوْمٍ
"Barangsiapa yang memelihara anjing yang bukan untuk berburu atau menjaga hewan ternak, maka pahalanya akan berkurang sebanyak 2 qirath setiap harinya."

dan di dalam hadis yang lain, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
مَنْ أَمْسَكَ كَلْبًا فَإِنَّهُ يَنْقُصُ كُلَّ يَوْمٍ مِنْ عَمَلِهِ قِيرَاطٌ إِلا كَلْبَ حَرْثٍ أَوْ مَاشِيَةٍ
"Barangsiapa yang memelihara anjing, sungguh amalnya akan dikurangi 1 qirath setiap harinya, kecuali anjing untuk menjaga tanaman atau ternak". (HR. Al Bukhori no. 2145)

Bahkan para malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya ada anjing, Beliau bersabda,
وروى ابن ماجه (3640) عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رضي الله عنه عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ( إِنَّ الْمَلائِكَةَ لا تَدْخُلُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ وَلا صُورَةٌ ) صححه اٍلألباني في صحيح ابن ماجه .
"Sesungguhnya para malaikat tidaklah memasuki rumah yang didalamnya ada anjing dan gambar" (HR. Ibnu Majah no. 3640, dan dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah)

          Maka hadis-hadis tersebut menunjukkan haramnya memelihara anjing, kecuali anjing yang digunakan untuk berburu, menjaga ternak atau tanaman. Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin berkata dalam "Syarah Riyadhus Sholihin" (4/241):
"Adapun memelihara anjing adalah sesuatu hal yang haram, bahkan hal itu merupakan dosa-dosa besar. Karena sesungguhnya orang yang memelihara anjing kecuali anjing yang dikecualikan Rasul (untuk berburu, menjaga ternak dan tanaman) akan dikurangi pahalanya sebanyak 2 qirath setiap harinya."


Kedua,
Apakah hukum memelihara anjing untuk menjaga rumah ?

Imam An Nawawi menyebutkan permasalahan ini dalam Syarah Shahih Muslim 10/340,
هَلْ يَجُوز اِقْتِنَاء الْكِلَاب لِحِفْظِ الدُّور وَالدُّرُوب وَنَحْوهَا ؟ فِيهِ وَجْهَانِ : أَحَدهمَا : لا يَجُوز ، لِظَوَاهِر الأَحَادِيث ، فَإِنَّهَا مُصَرِّحَة بِالنَّهْيِ إِلا لِزَرْعٍ أَوْ صَيْد أَوْ مَاشِيَة , وَأَصَحّهمَا : يَجُوز ، قِيَاسًا عَلَى الثَّلاثَة ، عَمَلا بِالْعِلَّةِ الْمَفْهُومَة مِنْ الأَحَادِيث وَهِيَ الْحَاجَة " انتهى .
"Apakah boleh memelihara anjing untuk keperluan menjaga rumah atau gerbang dan semisalnya ? dalam perkara ini ada 2 pendapat. Pertama, tidak diperbolehkan hal demikian sebagaimana dzahir hadis-hadis. Karena sesungguhnya hadis-hadis itu telah jelas melarang memelihara anjing kecuali untuk menjaga tanaman, ternak dan berburu. Adapun pendapat yang benar adalah diperbolehkan, dengan diqiyaskan dari 3 hal yang diperbolehkan dan dalam rangka mengamalkan sebab hukum yang dipahami dalam hadis-hadis yaitu adanya Hajat (kebutuhan)".

          Apa yang telah dijelaskan oleh Imam Nawawi diatas menunjukkan bahwa memelihara anjing untuk menjaga rumah adalah hal yang diperbolehkan karena alasan adanya kebutuhan untuk menjaga jiwa. Adapun jika tidak ada kebutuhan yang mendesak, seperti hanya untuk hobi, kasihan melihat anjing yang terlantar dan hal-hal semisal yang bukan merupakan kebutuhan secara syariat, maka hal tersebut tetap diharamkan untuk dipelihara dan pahala orang yang memelihara akan dikurangi satu atau dua qirath setiap harinya. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin,
وعلى هذا فالمنزل الذي يكون في وسط البلد لا حاجة أن يتخذ الكلب لحراسته، فيكون اقتناء الكلب لهذا الغرض في مثل هذه الحال محرماً لا يجوز، وينتقص من أجور أصحابه كل يوم قيراط أو قيراطان، فعليهم أن يطردوا هذا الكلب وألا يقتنوه، أما لو كان هذا البيت في البر خالياً ليس حوله أحد فإنه يجوز أن يقتنى الكلب لحراسة البيت ومن فيه، وحراسة أهل البيت أبلغ في الحفاظ من حراسة المواشي والحرث.
"Dengan demikian, rumah yang berada di tengah kota tidaklah perlu menjadikan anjing untuk menjaganya. Maka memelihara anjing untuk tujuan ini dan dalam kondisi seperti ini diharamkan dan tidak boleh. Akan dikurangi pahala pemiliknya sebanyak satu qirath atau dua qirath setiap harinya. Dan wajib atas mereka untuk mengusir anjing itu dan tidak memeliharanya. Adapun apabila rumahnya berada pada suatu tempat yang tidak ada orang disekitarnya, maka dia boleh memelihara anjing untuk menjaga rumahnya dan penghuninya. Dan menjaga penghuni rumah lebih ditekankan dari sekedar menjaga hewan ternak dan tanaman."  (رابط المادة: http://iswy.co/e3nml)

       Adapun seorang memelihara anjing dengan berdalil pada kisah perempuan yang masuk surga karena memberi minum seekor anjing tidaklah dapat dibenarkan, karena memberi minum anjing yang kehausan tidaklah menunjukkan bolehnya memelihara anjing dan mengasihani hewan tidaklah harus dengan cara memeliharanya. Apalagi hewan yang dimaksud telah dilarang untuk dipelihara tanpa hajat yang dibenarkan secara syar'i. Wallahu A'lam



Malang, 14 Rajab 1439 / 3 April 2018


About Muhammad Danu Kurniadi

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.