BAHASA ARAB

KESALAHAN PEMBELAJAR BAHASA ARAB PEMULA




Oleh : Ammi Ahmad

Berikut ini adalah beberapa kesalahan bagi pemula yang hendak belajar bahasa Arab, Apa saja itu ?? Yuk kita simak:


KESALAHAN PEMBELAJAR BAHASA ARAB PEMULA


1.      Menggampangkan dan menganggap mudah (belajar) bahasa Arab

Termasuk kesalahan bagi orang yang belajar bahasa Arab dari nol adalah adanya mindset bahwa bahasa Arab itu mudah, gampang, dan bisa dipelajari dengan cepat.

Hal ini, bisa jadi karena dia sering mendengar pemahaman bahwa bahasa Islam dan Al-Qur'an adalah bahasa Arab; yang Allah menjamin kemudahan dalam bahasa tersebut.

Saat seorang pelajar bahasa Arab dari awal sudah menganggap enteng dan mudah bahasa Arab, maka sejak awal itu pula dia tidak menyiapkan mental yang tangguh, bekal yang cukup, serta kematangan karakter tatkala belajar bahasa Arab.

Akibatnya?
Seperti kaum yang hendak berperang. Sebelum tempur, mereka sudah mengentengkan lawan. Merekapun tidak mempersiapkan bekal dan strategi perang yang memadai. Jatuhlah mereka dalam kekalahan yang pahit.

Pun demikian dengan pembelajar bahasa Arab. Dari awal sudah menyepelekan, merasa mampu dan kepedean; diapun tidak berusaha menyeimbangi hal itu dengan bekal-bekal belajar yang cukup. Hingga, tatkala disadari bahwa ternyata bahasa Arab tidak semudah yang dibayangkan, tidak sesimple yang dipikirkan, dia ngedrop, down, patah arang dan tak berdaya di depan kelemahannya sendiri.

Selanjutnya, bisa dilihat, dia akan segera lari, kabur dari majelis. Putus asa. Tidak mau belajar lagi. Bahasa Arab sulit sekali, alasannya. Fakta ini amat sangat banyak.

Benar, bahwa bahasa Arab adalah bahasa Islam dan Al-Qur'an, yang Allah janjikan kemudahan di dalam mempelajarinya. Tapi, bagi siapa? Yakni bagi siapapun yang bersungguh-sungguh belajar. Tekun. Ulet. Siap tempur. Siap berjuang dan berkorban sampai finish. Inilah, insyaallah, dengan sebab usahanya yang jujur, Allah membalasnya dengan kemudahan dalam belajar.

Adapun, bagi yang sedari awal sudah meremehkan, kemudian belajar asal-asalan, tidak siap survive, tidak berbekal secara cukup; tapi berharap akan sukses dan pintar dengan sekedar bekal keyakinan bahwa bahasa Arab itu mudah, maka bersiap sajalah untuk gigit jari. Sudah terlalu banyak contohnya.


2.      Semangat terlalu menggebu di awal tanpa manajemen diri secara proporsional.

Belajar bahasa asing, apapun bahasa itu, tentu membutuhkan waktu yang tidak singkat, bahkan bisa jadi sangat panjang.

Anda belajar bahasa Inggris, Jepang, Mandarin, termasuk Arab; semuanya memerlukan waktu yang panjang dan jalan yang penuh liku.

Rentang waktu yang panjang tersebut, sangat berpotensi menyebabkan kejenuhan dan rasa futur, lelah dan kehilangan semangat.

Oleh sebab itu, seorang pembelajar bahasa Arab harus selalu bisa mengontrol jiwanya, menjaga mood-nya, serta terus memupuk semangatnya.

Mood dan semangat itu akan sangat mustahil bisa terus terjaga sepanjang waktu proses belajar apabila tidak di-manage dengan baik.

Ibarat atlet lari maraton, ketika sudah start, dia tidak akan lari sekencang-kencangnya di awal; melainkan lari sewajarnya saja. Apa tujuannya? Menghemat energi, menjaga tenaga, agar jangan sampai terforsir habis di tengah jalan padahal finish masih sangat jauh. Dia harus me-manage energi dan kecepatannya.

Pun begitu dengan pembelajar bahasa Arab. Selama lebih dari 10 tahun saya berkiprah dalam pengajaran bahasa ini, saya dapati realita bahwa para peserta yang terlalu menggebu-gebu semangatnya di awal belajar, justru adalah yang paling cepat mengalami kejenuhan, kemudian hilang dari majelis. Sebaliknya, mereka yang sejak semula terlihat tenang, kalem, santai, bersahaja, tidak terlalu berapi-api semangatnya, biidznillah malah lebih bisa istiqomah dan sampai pada target belajar yang diharapkan.

Itulah mengapa, saya pribadi selalu menasihatkan kepada para peserta saya, agar bisa mengatur semangatnya. Jangan terlalu menggebu. Santai. Tapi serius.

Semangat yang terlalu membara itu, misalnya, terlihat dari sikapnya yang seolah ingin melahap semua literatur bahasa Arab yang ada. Inginnya cepat selesai. Cepat pintar. Tidak mau belajar setahap demi setahap. Seutas demi seutas.

Akibatnya? Lelah. Capek. Energinya terkuras habis saat masa belajar belum lama. Lelah itu melahirkan rasa jenuh. Bosan. Ujungnya adalah futur. Cepat atau lambat, lari dari majelis adalah pilihan terbaik menurutnya. Padahal, ilmunya belum apa-apa. Belum bisa apa-apa.
Maka dari itu, nasihat saya kepada para pembelajar bahasa Arab:

Semangat itu perlu. Karena semangat ibarat bahan bakar penggerak mesin. Namun, harus bisa di-manage secara proporsional.

Belajarlah dengan tenang. Jangan terlalu menggebu. Santai saja. Tapi tetap serius. Kalau sakit istirahatlah. Saat jenuh berhentilah barang sejenak. Tapi berjanjilah untuk segera kembali menekuni majelis belajar.

Galilah ilmu secangkul demi secangkul. Pelan, tapi pasti. Yang penting istiqomah. Sambil terus menjaga mood, mengatur energi, me-manage semangat. Sebab, jalan masih panjang. Proses masih lama. Jangan lupa sertai dengan doa, minta kepada Allah. Bersandar kepada-Nya. Memohon Taufiq dan pertolongan-Nya.

Insyaallah, yang seperti ini jauh lebih berpeluang mengantarkan pada keberhasilan dan meraih tujuan. Semoga bermanfaat.


3.      Tidak bisa membuat skala prioritas dalam tata kelola waktu dan kegiatan.

Namanya hidup sebagai makhluk sosial, tentu setiap orang memiliki berbagai kepentingan yang harus dicapai. Berbagai kepentingan itu melahirkan banyak kegiatan dan pekerjaan yang mesti dijalani.

Tidak ada yang salah dengan seabreg aktivitas. Justru, banyaknya kegiatan menunjukkan Anda sebagi pribadi yang dinamis, pekerja keras, dan insyaallah bisa diharapkan manfaatnya.

Hanya saja, yang wajib diperhatikan adalah, tatkala Anda sudah memutuskan untuk memulai belajar bahasa Arab, Anda harus siap meluangkan waktu dan energi secara khusus. Dari sekian banyak aktivitas yang Anda jalani, harus ada slot waktu yang memang Anda persiapkan khusus untuk belajar bahasa Arab. Jangan diganggu gugat lagi, kecuali untuk perkara darurat.

Hal ini penting. Agar disaat Anda terbentur antara waktu belajar bahasa Arab dengan kegiatan lain yang tidak darurat, Anda sudah tahu apa yang harus Anda putuskan dan jalani.

Namun, faktanya, justru di sinilah salah satu letak penyakit dan kesalahan pembelajar bahasa Arab pemula; yakni tidak bisa komitmen mengatur waktu dan kegiatan dengan baik. Akibatnya, alokasi waktu untuk belajar jadi acak kadut, tumpang tindih dengan agenda kegiatan lain, ini dan itu, tak ada habisnya.

Di sisi lain, dasar jiwa manusia itu menyukai hal-hal yang sifatnya senang-senang, dan malas dengan perkara kebaikan yang butuh perjuangan. Maka, tak heran, bila terjadi benturan antara dua kepentingan ini, mereka lebih condong memilih kegiatan yang menyenangkan itu dan meninggalkan jadwal belajar bahasa Arab. Bila selalu begini, seringnya kemudian merasa ogah untuk kembali hadir di majelis dan memulai belajar lagi, karena merasa sudah ketinggalan materi.

Misalnya:
Harusnya hari Sabtu sore waktunya belajar, tapi ada agenda panahan. Diapun memilih panahan daripada belajar.

Harusnya hari Ahad pagi saatnya belajar, tapi teman-teman kantor ngajak main futsal. Tak ayal, pergilah dia ke lapangan futsal dan meninggalkan belajar.

Harusnya hari Rabu malam jadwalnya belajar, tapi dari kelompok beladiri yang dia ikuti merubah jadwal beladiri di jam tersebut. Diapun lebih memilih beladiri dan meninggalkan belajar.

Dan lain sebagainya, banyak sekali contohnya. Panahan, futsal, beladiri, bukanlah hal yang tidak penting. Tapi kalau ditinjau dari sisi urgensinya di mata agama, tentu belajar bahasa Arab tak sebanding dengan itu semua.

Bahkan, ada juga yang meninggalkan belajar bahasa Arab karena sibuk menghadapi momen-momen krusial (menurutnya), yang sebenarnya tidaklah berpengaruh seandainya tetap belajar.
Izin berhenti dulu belajar bahasa Arabnya karena sibuk skripsi. Izin off dulu belajar bahasa Arabnya karena sibuk menyiapkan pernikahan. Izin pending dulu belajar bahasa Arabnya karena sibuk merintis usaha di lokasi yang baru.

Ini semua adalah contoh kesalahan pembelajar bahasa Arab pemula; yang tidak bisa komitmen dengan jadwal belajar, dan meninggalkan majelis belajar disebabkan oleh hal-hal yang tidak darurat.

Pembelajar pemula dengan tipe seperti ini, sampai kapanpun, akan sangat sulit meraih target dan berhasil dalam belajar bahasa Arab. Sebab, mencapai garis finish dalam proses belajar bahasa Arab itu tidak main-main. Butuh waktu yang panjang, komitmen yang kuat, karakter yang tangguh, tidak mudah menyerah, sabar dalam suka duka, dan juga pandai mengatur skala prioritas berkegiatan.

Di antara para peserta didik saya, ada yang memiliki karakter itu semua. Tekun dan ulet belajar, melewati hari demi hari dalam pahit manisnya belajar untuk waktu yang bisa dibilang cukup lama. Ada yang 3 tahun, bahkan 4 tahun. Hasilnya? Sangat memuaskan. Bahkan bisa dikatakan, untuk saat ini mereka lebih pintar berbahasa Arab daripada gurunya.

Inilah. Jika ingin belajar bahasa Arab, Anda harus punya modal ini. Pandai mengatur waktu. Bisa membuat skala prioritas kegiatan. Komitmen yang tinggi. Dan termasuk yang paling penting adalah, Anda mesti punya alokasi waktu khusus untuk belajar bahasa Arab, yang Anda pegang teguh waktu tersebut dengan prinsip "tidak bisa diganggu gugat" kecuali oleh hal yang darurat.

Selamat belajar. Semoga sukses.

Barakallahu fiikum

About Muhammad Danu Kurniadi

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.