FIKIH

Hukum Ceramah atau Kultum Pada Shalat Tarawih



Oleh : Muhammad Danu Kurniadi

Di antara permasalahan yang sering dibahas kaum muslimin pada setiap bulan Ramadhan adalah "Apakah hukum menyampaikan ceramah /tausiyah / khutbah / kultum pada shalat tarawih (baik di awal, di pertengahan atau di akhir shalat terawih) ?". Untuk mengetahui jawabannya mari kita merujuk dan menyimak penjelasan para ulama dalam masalah ini agar tidak salah dalam mengambil langkah.
1.       Fatwa Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin.
Pertanyaan :
Di Kuwait tempat kami ada penyampaian ceramah / kultum setelah 4 rakaat pada setiap shalat terawih, apakah diperbolehkan hal tsb ? Jika diperbolehkan bagaimanakah seharusnya ceramah / kultum ini ?

Jawaban :
"Saya berpendapat untuk tidak melakukan perbuatan demikian. Alasan pertama adalah karena itu bukanlah merupakan petunjuk salaf.  Alasan kedua adalah karena sebagian manusia ingin datang hanya untuk melaksanakan shalat terawih kemudian kembali ke rumahnya. Jika dipaksakan adanya ceramah / kultum maka ini menjadi rintangan dan menjadikan mereka bosan serta membenci ceramah ini. Sedangkan ceramah ini jika tidak diterima, maka madharatnya lebih banyak daripada manfaatnya. oleh karena itu Nabi shallallahu ’alaihi wasallam selalu memilih waktu yang tepat untuk memberi nasihat kepada para sahabat, karena beliau tidak ingin memberatkan mereka maupun mengulang-ulang nasehatnya. Maka saya berpendapat bahwa hal itu (ceramah pada shalat terawih) lebih utama untuk ditinggalkan, dan jika imam ingin menyampaikan ceramah kepada jamaah, maka hendaknya menjadikannya di akhir waktu, yaitu apabila shalat telah selesai." (Liqa al-Bab al-Maftuh 118)

Beliau juga pernah ditanya,
Pertanyaan :
Apa hukum memberikan tausiyah di antara shalat tarawih atau pada pertengahannya secara rutin ?

Jawaban :
"……..Adapun ceramah maka seharusnya tidak dilakukan, karena ini bukan termasuk petunjuk salaf. Akan tetapi boleh menyampaikan tausiyah apabila ada suatu hajat / keperluan dan hal itu pun dilakukan setelah shalat terawih. Apabila menyampaikan tausiyah pada shalat terawih ini dalam rangka ta'abud (ibadah), maka ini bid’ah. Dan salah satu pertanda, ceramah tersebut dimaksudkan sebagai ibadah adalah dengan melaksanakannya secara rutin setiap malam......." [1]


2.       Fatwa Syaikh Muhammad Nasiruddin Al Albani
Pertanyaan :
Apakah boleh bagi imam masjid untuk memberikan ceramah di antara rakaat-rakaat shalat tarawih ?

Jawaban :
"Boleh dan tidak boleh. Apabila peringatan, perintah dan larangan disebabkan adanya perkara penting yang tiba-tiba maka ini perkara wajib untuk segera disampaikan. Adapun apabila dijadikan sebagai sebuah aturan dan kebiasan, seperti dilakukan di antara 4 rakaat tarawih atau lebih banyak dari itu atau kurang dari itu, dimana imam menyampaikan ceramah di dalamnya, maka ini menyelisihi sunah." (Silsilah Huda wan Nur: 656).

Beliau juga berkata,
"Qiyam Ramadhan disyariatkan semata untuk meningkatkan taqarrub kita kepada Allah Ta’ala dengan shalat Tarawih, oleh karena itu maka kami tidak berpendapat untuk mencampuradukkan antara shalat tarawih dengan hal yang berkaitan dengan ilmu dan taklim dan semacamnya, seharusnya hanya diisi dengan shalat Tarawih yang merupakan ibadah murni, adapun ilmu maka ada waktunya, tidak dibatasi dengan waktu, hanya perlu diperhatikan maslahat orang yang belajar, ini aslinya dan saya inginkan dari sini bahwa siapa yang membuat kebiasaan mengajarkan manusia diantara setiap raka’at seperti dalam shalat Tarawih dan itu dijadikan kebiasaan, maka itu termasuk perkara baru yang menyelisihi sunah”. (Disarikan dari kaset Silsilah Huda wan Nur nomer: 693 menit ke 28). [2]

Untuk lebih lengkapnya dari fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani bisa dilihat di 


Kesimpulan dari kedua fatwa tersebut adalah :
1.       Pada asalnya shalat tarawih tidaklah memiliki kultum / ceramah / tausiyah secara khusus.
2.       Tidak disyariatkannya melaksanakan kultum /  ceramah / tausiyah pada shalat tarawih.
3.       Diperbolehkan melaksanakannya dengan beberapa syarat :
a.       Dilakukan jika ada hajat atau keperluan tiba-tiba yang kaum muslimin membutuhkan pencerahan tentangnya.
b.       Tidak dilakukan secara terus menerus dan menjadi kebiasaan [Hal ini yang perlu untuk diperhatikan oleh para da’i, karena kultum pada shalat tarawih telah menjadi kebiasaan (mayoritas) kaum muslimin di Indonesia. Sehingga mereka merasakan ada yang kurang jika melaksanakan tarawih tanpa adanya ceramah atau kultum. Hal ini pun semakin tampak jelas jika kita melihat sibuknya para takmir masjid dalam mencari penceramah untuk shalat tarawih, seakan-akan hal ini menjadi sesuatu yang harus ada atau minimal dianggap lebih utama / lebih afdhol oleh masyarakat. Maka menjadi cukup ganjil jika ada yang mengatakan “tidak mengapa ceramah pada tarawih jika tidak dirutinkan”, padahal mayoritas masyarakat telah merutinkannya].

Dari kesimpulan di atas kita dapat mengambil pelajaran yaitu lebih utama meninggalkan perkara ini (ceramah pada shalat tarawih), dengan begitu kita sudah menjelaskan kepada masyarakat bahwa hal itu tidaklah disyariatkan. Wallahu a’lam.


Malang, 3 Ramadhan 1439 H / 19 Mei 2018 M
Al Faqir Ila ‘Afwi Rabbihi




[1] Teks Asli :
السؤال: عندنا في الكويت موعظة بعد أربع ركعات في صلاة القيام هل تجوز هذه، وإذا جاز كيف تكون هذه الموعظة؟
الجواب (ابن عثيمين)
الذي أرى ألا تفعل، أولاً: أنها ليست من هدي السلف .
ثانياً: أن بعض الناس قد يحب أن يأتي بالتهجد وينصرف إلى بيته، وفي هذا إعاقة وإملال لهم، وإكراه على هذه الموعظة، والموعظة إذا لم تكن متقبلة فضررها أكثر من نفعها، ولهذا كان النبي صلى الله عليه وعلى آله سلم يتخول أصحابه بالموعظة ولا يثقل عليهم ويكرر، فأرى أن تركها أولى، وإذا أراد الإمام أن يعظ الناس فليجعله في آخر شيء، إذا انتهت الصلاة نهائياً .
** وسئل الشيخ محمد ابن عثيمين رحمه الله في ( لقاء الباب المفتوح [118] ) عن ذلك :

السؤال: ما حكم الموعظة بين صلاة التراويح أو في وسطها ويكون هذا دائماً؟

فأجاب الشيخ: " ... أما الموعظة فلا، لأن هذا ليس من هدي السلف , لكن يعظهم إذا دعت الحاجة أو شاء بعد التراويح، وإذا قصد بهذا التعبد فهو بدعة, وعلامة قصد التعبد أن يداوم عليها كل ليلة, ثم نقول: لماذا يا أخي تعظ الناس؟ قد يكون لبعض الناس شغل يحب أن ينتهي من التراويح وينصرف ليدرك قول الرسول عليه الصلاة والسلام: (من قام مع الإمام حتى ينصرف كتب له قيام ليلة) وإذا كنت أنت تحب الموعظة ويحبها أيضاً نصف الناس بل يحبها ثلاثة أرباع الناس فلا تسجن الربع الأخير من أجل محبة ثلاثة أرباع, أليس الرسول صلى الله عليه وسلم قال: (إذا أمّ أحدكم الناس فليخفف فإن من ورائه ضعيف والمريض وذي الحاجة) أو كما عليه الصلاة والسلام, يعني: لا تقس الناس بنفسك أو بنفس الآخرين الذين يحبون الكلام والموعظة, قس الناس بما يريحهم, صلِّ بهم التراويح وإذا انتهيت من ذلك وانصرفت من صلاتك وانصرف الناس فقل ما شئت من القول. نسأل الله أن يرزقنا وإياكم العلم النافع والعمل الصالح، وأبشروا بالخير بالحضور إلى هذا المكان لأن: (من سلك طريقاً يلتمس فيه علماً سهل الله له به طريقاً إلى الجنة والحمد لله رب العالمين، وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين." انتهى.  (https://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=148079)
[2]  Teks Asli :
هل يجوز لإمام مسجد في صلاة التراويح أن يلقي بين الركعات موعظة.؟
قال الشيخ الألباني رحمه الله :
الجواب: يجوز ولا يجوز ، إذا كان التنبيه والتحذير والأمر والنهي لأمر عارض فهذا أمر واجب , أما إذا كان يتخذ نظاما وعادة بين كل أربع ركعات مثلا أو أكثر من ذلك أو  أفل من ذلك يلقي الإمام درسا فهذا خلاف السنة.
سلسلة الهدى والنور-656
** وقال الشيخ محمد ناصر الدين الألباني رحمه الله:
"قيام رمضان شُرع فقط لزيادة التقرب إلى الله عز وجل بصلاة القيام , ولذلك فلا نرى نحن أن نجعل صلاة التراويح يخالطها شيء من العلم والتعليم ونحو ذلك , وإنما ينبغي أن تكون صلاة القيام محض العبادة , أما العلم فله زمن , لا يحدد بزمن , وإنما يراعي فيه مصلحة المتعلمين , وهذا هو الأصل وأريد من هذا أن من إتخذ عادة أن يعلم الناس ما بين كل أربع ركعات مثلا في صلاة القيام , إتخذ ذلك عادة , فتلك محدثة مخالفة للسنة ".
مفرغ من شريط سلسلة الهدى والنور رقم 693 ـ الدقيقة 28 ـ(https://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=148079)

About Muhammad Danu Kurniadi

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.