NASEHAT

Saatnya Menjadi Lebih Baik




Oleh : Muhammad Danu Kurniadi

Setahun yang lalu atau beberapa tahun yang lalu kita pernah menyambut bulan Ramadhan. Setahun yang lalu kita mempersiapkan puasa bulan Ramadhan. Setahun lalu mungkin sebagian kita mengerjakan shalat tarawih, kita membaca al Qur’an, kita hadiri majlis-majlis ilmu, tahun lalu kita pun pernah merasakan bulan Ramadhan yang kita rasakan saat ini.

Tapi apakah pernah kita merasakan perbedaan-perbedaan dalam Ramadhan kita ? Apakah disetiap Ramadhan yang kita lalui kita sudah menjadi lebih baik dari ramadhan sebelumnya? Pernahkan kita berfikir, telah kita lalui ramadhan demi ramadhan, kita habiskan umur kita, tapi ketakwaan kita hanya seperti itu saja, tidak pernah bertambah, keimanan kita tidak bertambah, amal sholih kita tidak bertambah, atau bahkan berkurang wal “iyadzu billah.

Jika kita tidak pernah memikirkan hal demikian, maka marilah mulai saat ini kita memikirkannya. Akankah Ramadhan kita kali ini sama saja seperti Ramadhan-ramadhan sebelumnya ? Marilah kita mulai berfikir untuk terus memperbaiki diri di Ramadhan-ramadhan yang kita lewati. Jika di bulan yang penuh kebaikan saja kita tidak bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya, Maka kapankah kita akan memperbaiki diri ?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إذا كان أول ليلة من شهر رمضان صفدت الشياطين ومردة الجن، وغلقت أبواب النار فلم يفتح منها باب، وفتحت أبواب الجنة فلم يغلق منها باب، وينادي مناد يا باغي الخير أقبل ويا باغي الشر أقصر، ولله عتقاء من النار وذلك كل ليلة.
Apabila datang awal malam dari bulan Ramadhan, setan-setan dan jin-jin yang sangat jahat dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup tidak ada satu pintupun yang terbuka, sedangkan pintu-pintu surga dibuka tidak ada satu pintupun yang ditutup. Dan seorang penyeru menyerukan: ‘Wahai orang yang menginginkan kebaikan kemarilah. Wahai orang-orang yang menginginkan kejelekan tahanlah.’ Dan Allah memiliki orang-orang yang dibebaskan dari neraka, yang demikian itu terjadi pada setiap malam.” (HR. At-Tirmidzi dalam Sunan-nya no. 682 dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya no. 1682, dihasankan Asy-Syaikh Albani rahimahullahu dalam Al-Misykat no. 1960)

Al Qodhi ‘Iyadh mengatakan, “Hadits di atas dapat bermakna, terbukanya pintu surga dan tertutupnya pintu Jahannam sebagai terbelenggunya setan-setan sebagai tanda masuknya bulan Ramadhan dan mulianya bulan tersebut.” Lanjut Al Qodhi ‘Iyadh, “Juga dapat bermakna terbukanya pintu surga karena Allah memudahkan berbagai ketaatan pada hamba-Nya di bulan Ramadhan seperti puasa dan shalat malam. Hal ini berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Di bulan Ramadhan, orang akan lebih sibuk melakukan kebaikan daripada melakukan maksiat. Inilah sebab mereka dapat memasuki surga dan pintunya. Sedangkan tertutupnya pintu neraka dan terbelenggunya setan, inilah yang mengakibatkan seseorang mudah menjauhi maksiat ketika itu.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 7/188)

Jika di bulan yang kita dimudahkan melaksanakan ketaatan dan dijauhkan melaksanakan kemaksiatan, kita tidak mampu memperbaiki diri kita, maka segeralah kita tangisi diri kita. Sungguh keburukan apa yang Allah kehendaki bagi kita.

Oleh karena itu, hendaknya di Ramadhan kita kali ini harus berkomitmen untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, dan kebaikan ini harus kita teruskan sampai Ramadhan yang akan datang untuk kemudian kita tambah lagi dengan kebaikan-kebaikan yang lainnya. Jangan sampai kita mejadi baik di bulan Ramadhan, kemudian menjadi buruk lagi setelah keluar dari bulan Ramadhan. Karena Ramadhan membagi manusia menjadi 4 golongan:
Pertama, golongan yang tidak mengenal Allah kecuali di bulan Ramadhan
Sebelas bulan dia lalai dari Allah, tak shalat berjama'ah, tak bersedekah, tak sholat malam dan tak pula membaca al-Qur'an, namun tatkala ramadhan telah tiba, dia mulai aktif sholat berjama'ah, mulai membaca al-qur'an, dan bahkan sholat malam pun sebulan penuh mampu dia lakukan, namun masa itu tidak lah berlangsung lama, ramadhan telah berakhir, pergi dan menghilang.... bulan telah berganti, tepat hari pertama di bulan syawal...semua ibadah itupun ikut hilang...
Mereka inilah Ramadhaniyyun hanya menjadi pengikut bulan ramadhan
kedua, golongan yang tak pernah mengenal Allah, baik di dalam maupun di luar bulan Ramadhan, Ramadhan tak mampu membuatnya mengenal dan mendekat kepada Allah, mereka inilah manusia yang paling celaka dan penuh kesengsaraan.
ketiga, golongan yang lalai dari Allah di luar bulan Ramadhan, Sholat berjama'ah pun hanya kadang2, bahkan sholat wajibpun masih banyak berlubang, jarang membaca al-Qur'an dan tidak pernah sholat malam...akan tetapi ketika Ramadhan datang, dia merefresh cintanya kepada Allah, dia maksimalkan ibadah di bulan Ramadhan, dia bertaubat, beristighfar dan memperbaiki diri di bulan Ramadhan...kemudian dia lanjutkan ibadahnya di luar bulan Ramadhan dan dia istiqomah di atasnya..
Inilah golongan yang berhasil dididik dan ditarbiyah oleh madrasah Ramadhan...
keempat, golongan yang baktinya kepada Allah tak pernah dibatasi bulan Ramadhan...dia selalu mengingat Allah dan beribadah kepadanya baik di dalam maupun di luar Ramadhan. Dia senantiasa menjaga sholatnya, melazimi al-Qur'an, berdiri ditengah malam...dan imannya tidak lekang dengan berlalunya ramadhan...Mereka inilah Rabbaniyyun.

Untuk menjadi pribadi yang lebih baik pada Ramadhan kali ini, paling tidak ada 3 cara yang harus kita lakukan :
1.       Senantiasa Muhasabah Diri
apakah ada yang pernah bertanya dalam dirinya apakah puasa yang kita lakukan telah diterima Allah ? Apakah shalat malam kita telah diterima Allah ? Apakah bacaan Al Qur’an kita telah diterima Allah ? Apakah seluruh ibadah yang pernah kita lakukan tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya telah diterima Allah ? Kita tak pernah tahu hal tsb. Bahkan Allah berfirman :
قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al-Maidah : 27).
Dan Sahabat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan,
كونوا لقبول العمل أشد اهتماما منكم بالعمل ألم تسمعوا الله عز وجل يقول: {إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ}
Jadilah orang yang lebih memperhatikan diterimanya amalan, daripada amal itu sendiri. Tidakkah kalian mendengar firman Allah ‘Azza Jalla (Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa).” (Kitab Lata’iful Ma’arif li Ibni Rajab Al hanbali 1/209)

Kalau misalnya kita tidak bertakwa, maka jangan harap Allah menerima amalan-amalan kita. Dan Allah mewajibkan kita berpuasa di bulan Ramadhan ini adalah agar kita bertakwa, Allah Ta’ala berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan kepada kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa”. (QS. Al-Baqarah : 183)

Karena memang ada sebagian orang yang ia berpuasa tapi tidak diterima puasanya karena tidak bertakwa. Maka sebagai seorang mukmin yang sejati hendaklah kita senantiasa bermuhasabah sebagaimana perkataan Sahabat Umar bin Khattab radhiyallau ‘anhu :
حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسبوا
Hisablah diri-diri kalian, sebelum kalian dihisab”.

Oleh karena itu, sikap seorang mukmin yang sejati adalah ia senantiasa mengintrospeksi dirinya, senantiasa memperbaiki dirinya karena khawatir Allah tidak menerima amalan-amalannya, karena khawatir Allah murka kepadanya. Bukanlah sifat seorang mukmin jika ia hanya mencukupkan diri dengan apa yang telah ia kerjakan tanpa ia introspeksi dan selalu berusaha memperbaiki. Karena sifat seorang mukmin sejati adalah ia selalu berusaha mendapatkan yang terbaik untuk akhiratnya.

Kalau untuk urusan dunia saja kita selalu berlomba-lomba untuk mendapatkan lebih baik, tapi mengapa untuk akhirat kita selalu mencukupkan diri dengan apa yang kita lakukan. Padahal menyuruh hambaNya untuk berlomba-lomba dalam masalah akhirat. Allah berfirman :
وَفِي ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ
dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba”. (QS. Al Muthaffifin : 26)

Jika untuk kebutuhan dunia kita selalu bersiap-siap dan berpandangan jauh, lantas kenapa untuk akhirat kita juga tidak berfikiran seperti itu, padahal Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)”. (QS. Al Hasyr : 18)

Termasuk di antara bekal kita menyiapkan hari esok adalah kita berusaha mencetak anak-anak yang sholih, dan anak-anak yang sholih itu tidak akan mungkin didapatkan jika kita tidak menjadi hamba yang sholih.

2.       Menyusun Program Hidup
Di antara ciri orang sukses adalah ia selalu menuliskan apa-apa yang ingin mereka capai. Walaupun kebanyakan manusia mengamalkan ini untuk perkara dunia, maka kita juga perlu mencontohnya untuk menuliskan apa-apa yang ingin kita capai dalam urusan akhirat kita. Kita harus memiliki capaian dalam bentuk mingguan, bulanan dan tahunan. Karena tanpa menuliskan target-target capaiannya seorang hanya akan terlena dengan kehidupannya dan seorang akan lebih sering lupa tujuan hidupnya.

Maka menuliskan apa yang harus kita capai dalam waktu tertentu sangat membantu bagi kita untuk memperbaiki diri dan berjalan ke arah yang lebih baik.

3.       Cari Teman Yang Bisa Mendukung Untuk Istiqamah
Tidak diragukan lagi bahwa pengaruh teman sangatlah kuat pada diri seseorang. Jika seseorang biasa berteman dengan orang-orang buruk maka tidak menutup kemungkinan ia akan menjadi buruk pula. Jika seorang biasa berteman dengan orang-orang baik, maka tidak menutup kemungkinan ia akan menjadi baik pula, atau minimal ia akan dipandang baik oleh orang lain. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam:
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً
Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari no. 2101)

Para ulama pun memiliki nasehat agar kita selalu dekat dengan orang sholih. Al Fudhail bin ‘Iyadh berkata,

نَظْرُ المُؤْمِنِ إِلَى المُؤْمِنِ يَجْلُو القَلْبَ
Pandangan seorang mukmin kepada mukmin yang lain akan mengilapkan hati.” (Siyar A’lam An Nubala’, 8/435, Mawqi’ Ya’sub). Maksud beliau adalah dengan hanya memandang orang sholih, hati seseorang bisa kembali tegar. Oleh karenanya, jika orang-orang sholih dahulu kurang semangat dan tidak tegar dalam ibadah, mereka pun mendatangi orang-orang sholih lainnya.

‘Abdullah bin Al Mubarok mengatakan, “Jika kami memandang Fudhail bin ‘Iyadh, kami akan semakin sedih dan merasa diri penuh kekurangan.”

Ja’far bin Sulaiman mengatakan, “Jika hati ini ternoda, maka kami segera pergi menuju Muhammad bin Waasi’.” (Ta’thirul Anfas min Haditsil Ikhlas,  Sayyid bin Husain Al ‘Afani, hal. 466, Darul ‘Affani, cetakan pertama, tahun 1421 H)

Ibnul Qayyim mengisahkan, “Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika kami ditimpa perasaan gundah gulana atau muncul dalam diri kami prasangka-prasangka buruk atau ketika kami merasakan sempit dalam menjalani hidup, kami segera mendatangi Ibnu Taimiyah untuk meminta nasehat. Maka dengan hanya memandang wajah beliau dan mendengarkan nasehat beliau serta merta hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang”. (Shahih Al Wabilush Shoyyib, antara hal. 91-96, Dar Ibnul Jauziy)

Di antara faidah memilih teman yang baik adalah mampu menambah keimanan kita dan kita lebih termotivasi untuk beramal. Wallahu a’lam.


Malang, 5 Ramadhan 1439 H / 21 Mei 2018
Al Faqir Ila ‘Afwi Rabbih


Sumber :
Tulisan Guru Kami Ust. Fadlan Fahamsyah, Lc. M.H.I.
dan sumber lainnya.


About Muhammad Danu Kurniadi

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.