AQIDAH & MANHAJ

Pelajaran Manhaj Dari Imam Ahmad bin Yunus


Oleh : Ust. Sofyan Cholid Ruray

BELIAU ADALAH GURUKU, TAPI JANGAN BELAJAR KEPADANYA...!

Al-Imam Ahmad bin Yunus rahimahullah, salah seorang imam besar Ahlus Sunnah wal Jama'ah, beliau adalah guru Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim, beliau pernah belajar selama 20 tahun kepada Al-Hasan bin Shalih, tapi kemudian beliau melarang manusia belajar kepada Al-Hasan bin Shalih dan mencelanya, beliau berkata,
لو لم يولد الحسن بن صالح كان خيرا له ; يترك الجمعة ، ويرى السيف ، جالسته عشرين سنة ، ما رأيته رفع رأسه إلى السماء ، ولا ذكر الدنيا
"Seandainya Al-Hasan bin Shalih tidak dilahirkan maka itu lebih baik baginya, ia meninggalkan sholat Jum'at bersama Pemerintah dan berpendapat boleh memberontak. Aku bermajelis dengannya 20 tahun, aku tidak pernah melihatnya mengangkat kepalanya ke langit (karena takut kepada Allah) dan tidak pernah berbicara dunia." [Siyar A’lamin Nubala’, 7/54]

Perhatikanlah wahai saudaraku rahimakumullaah, mengapa Al-Imam Ahmad bin Yunus mencela dan melarang manusia belajar kepada gurunya Al-Hasan bin Shalih?
Padahal gurunya adalah ahli ibadah yang zuhud, bahkan ahli hadits dan ahli fiqh. Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata tentang Al-Hasan bin Shalih,
الإِمَامُ الكَبِيْرُ، أَحَدُ الأَعْلاَمِ، أَبُو عَبْدِ اللهِ الهَمْدَانِيُّ، الثَّوْرِيُّ، الكُوْفِيُّ، الفَقِيْهُ، العَابِدُ
“Imam besar, salah seorang tokoh, dia adalah Abu Abdillah Al-Hamadani Ats-Tsauri Al-Kufi, seorang yang fakih, ahli ibadah.” [Siyar A’lamin Nubala’, 7/52]

Lalu kenapa para ulama bahkan muridnya sendiri melarang manusia belajar kepadanya?
Jawabannya karena satu kesesatan, yaitu pemahaman Khawarij.
Maka bagaimana lagi dengan seorang ustadz yang memiliki berbagai penyimpangan? Seorang ustadz yang memiliki pemahaman Khawarij, juga Qodariyah, Jahmiyah, Asy'ariyah dan Shufiyyah?
Maka pahamilah wahai saudaraku rahimakumullaah, tidak semua perbedaan pendapat yang dapat ditolerir.

Diantaranya masalah-masalah aqidah yang telah disepakati para ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah tidak boleh diselisihi, barangsiapa menyelisinya berarti ia menyelisihi prinsip (ushul) Ahlus Sunnah wal Jama'ah, dan itulah yang mengeluarkan pelakunya dari Ahlus Sunnah wal Jama'ah.
Al-Imam Asy-Syathibi rahimahullah berkata,
أَنَّهُ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: «كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا وَاحِدَةً» وَحَتَّمَ ذَلِكَ. وَقَدْ تَقَدَّمَ أَنَّهُ لَا يُعَدُّ مِنَ الْفِرَقِ إِلَّا الْمُخَالِفَ فِي أَمْرٍ كُلِّيٍّ وَقَاعِدَةٍ عَامَّةٍ
“Bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Semuanya di neraka kecuali satu.” Beliau memastikan hal tersebut. Dan telah berlalu bahwa tidaklah seseorang digolongkan kepada kelompok-kelompok sesat (ahlul bid’ah) itu kecuali orang yang menyelisihi dalam perkara yang menyeluruh dan kaidah umum (prinsip-prinsip dasar agama).” [Al-I’tishom, 2/764]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah memberikan contoh,
و”الْبِدْعَةُ” الَّتِي يُعَدُّ بِهَا الرَّجُلُ مِنْ أَهْلِ الْأَهْوَاءِ مَا اشْتَهَرَ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ بِالسُّنَّةِ مُخَالَفَتُهَا لِلْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ؛ كَبِدْعَةِ الْخَوَارِجِ وَالرَّوَافِضِ وَالْقَدَرِيَّةِ وَالْمُرْجِئَةِ فَإِنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الْمُبَارَكِ وَيُوسُفَ بْنَ أَسْبَاطٍ وَغَيْرَهُمَا قَالُوا: أُصُولُ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً هِيَ أَرْبَعٌ: الْخَوَارِجُ وَالرَّوَافِضُ وَالْقَدَرِيَّةُ وَالْمُرْجِئَةُ
“Bid’ah yang menggolongkan seseorang kepada ahlul ahwa (ahlul bid’ah) adalah bid’ah yang telah masyhur di kalangan ulama Sunnah akan penyelisihannya terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah, seperti bid’ah Khawarij, Rafidhah (Syi’ah), Qodariyyah dan Murjiah, karena sungguh Abdullah bin Al-Mubarok, Yusuf bin Asbath dan selain keduanya berkata: Akar 72 golongan ada empat; Khawarij, Rafidhah (Syi’ah), Qodariyyah dan Murjiah.” [Majmu’ Al-Fatawa, 35/414]

Contoh lain yang menyelisihi aqidah dan prinsip Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang disepakati seluruh ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah:
1. Tidak mengimani Allah di atas 'arsy, di atas langit yang ketujuh.
2. Tidak mengimani sifat-sifat Allah 'azza wa jalla sesuai zhahirnya, seperti sifat turun ke langit dunia di sepertiga malam yang terakhir, sifat tangan Allah dan lain-lain.
3. Tidak mengimani bahwa takdir Allah yang telah ditulis 50.000 tahun sebelum langit dan bumi diciptakan adalah mencakup semua perbuatan manusia.
4. Memberontak kepada pemerintah kaum muslimin, baik dengan senjata maupun dengan kata-kata.
5. Membenarkan bid'ah 'hasanah'.
Dan lebih parah lagi, mereka berdalil dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah untuk mendukung pemahaman-pemahaman yang menyelisihi Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Maka ketahuilah wahai saudaraku rahimakumullaah, Allah dan Rasul-Nya telah melarang kita menjadikan mereka sebagai guru, diantaranya dalam firman Allah ta'ala,
فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ
"...Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah (syubhat yang menyesatkan) dan untuk membuat-buat takwilnya (yang menyimpang)..." [Ali Imron: 7]

Rasulullah shallallaahu'alaihi wa sallam bersabda,
فَإِذَا رَأَيْتِ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ فَأُولَئِكِ الَّذِينَ سَمَّى اللَّهُ فَاحْذَرُوهُمْ
"Maka apabila engkau melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat yang mutasyaabihaat (untuk menjadikannya sebagai syubhat yang menyesatkan dan menakwilkannya secara menyimpang) maka mereka itulah yang Allah sebutkan dalam ayat ini (Ali Imron: 7) maka berhati-hatilah kamu dari mereka." [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallaahu'anha]

Maka inilah manhaj Ahlus Sunnah wal Jama'ah, yaitu berhati-hati dan menjauh dari orang yang menyesatkan, bukan malah menjadikan mereka sebagai guru.
Walau dulunya kita pernah belajar kepada mereka, tetapi jika sudah jelas menyimpang dari Ahlus Sunnah wal Jama'ah maka tidak boleh lagi dijadikan sebagai guru.
Bahkan wajib kita ingatkan manusia untuk menjauhinya, seperti yang dilakukan oleh Al-Imam Ahmad bin Yunus, beliau mentahdzir guru beliau yang telah berjasa kepadanya selama 20 tahun mengajarkan ilmu kepadanya.
Namun sangat disayangkan ada sebagian kelompok yang menganggap murid yang mentahdzir gurunya yang telah menyimpang dari jalan Salaf sebagai murid durhaka, padahal itulah kasih sayang yang sebenarnya, dipandang dari dua sisi:
1. Agar dia kembali kepada kebenaran dan selamat dari kesesatan di dunia dan azab Allah 'azza wa jalla di akhirat.
2. Agar dosanya tidak semakin banyak dengan semakin banyaknya orang yang mengikuti kesesatannya.
Ketika seseorang mencela Al-Imam Yusuf bin Asbath karena mentahdzir Al-Hasan bin Shalih maka beliau menjawab,
أَنَا خَيْرٌ لِهَؤُلاَءِ مِنْ آبَائِهِم وَأُمَّهَاتِهِم، أَنَا أَنْهَى النَّاسَ أَنْ يَعْمَلُوا بِمَا أَحْدَثُوا، فَتَتْبَعُهُم أَوْزَارُهُم، وَمَنْ أَطْرَاهُم كَانَ أَضَرَّ عَلَيْهِم
“Justru aku lebih baik bagi mereka daripada bapak dan ibu mereka sendiri, aku melarang manusia agar tidak mengamalkan bid’ah yang mereka ada-adakan, agar dosa-dosa mereka tidak berlipat-lipat, orang yang memuji mereka justru yang membahayakan mereka.” [Siyar A’lamin Nubala’, 7/54]



About Muhammad Danu Kurniadi

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.