FIKIH

Puasa Arafah Bersama Pemerintah Atau Mengikuti Wukuf Di Arafah ?



PUASA ARAFAH DI PERSIMPANGAN JALAN

Oleh : Ust. Abu Ghozie As Sundawie

Dalam mensikapi Puasa arofah tahun ini, manusia terbagi kpada 4 golongan :

1- Ada yang  mengikuti penetapan hasil ru'yah negara saudi, dengan alasan puasa arafah itu berkaitan dg peristiwa wukuf di Arofah, sehingga mereka berpuasa hari SENIN dan idul adha nya hari SELASA

2- Ada yang mengikuti hasil penetapan ru'yah hilal  pemerintah , sehingga mereka berpuasa hari SELASA dan iedul Adhanya hari RABU

3- Ada yang mengambil jalan tengah dan sebagai bentuk kehati hatian, sehingga mereka puasanya dua hari yaitu hari SENIN dan hari SELASA, sementara iedul adhanya tetap ikut pemerintah, yaitu hari RABU

4- Ada juga yang megambil jalan tengah juga yaitu puasa arafahnya ikut penetapan ru'yah hilal negeri saudi, namun  iedul adhanya ikut penetapan ru'yah hilal pemerintah, sehingga mereka berpuasa arafah hari SENIN dan iedul adhanya hari RABU

Dalam hal ini, terlepas di kelompok dan bagian mana anda berpendapat, hendaklah lapang dada, karena masalah ini adalah masalah khilafiyah ijtihadiyah yang mu'tabar, tidak boleh saling menyesatkan, walaupun tetap kita pilih pendapat yang rojih secara ilmiyyah. Lagipula tidak berpuasa arofah pun tidak berdosa karena puasa arofah sepakat para ulama hukumnya sunnah, hanya saja jika tidak puasa pastinya rugi kehilangan pahala dan keutamaan,,

Saya sendiri lebih memilih  pendapat yang nomor 2 (dua) , karena :

1- Setiap negeri punya mathla' hilal masing masing, maka bisa jadi antara negara Saudi Arabia  dan Indonesia kadang terjadi perbedaan ru'yah hilal, bahkan jika mendung pun misalnya sehingga tidak tampak hilal, maka hal ini dianggap tidak adanya hilal dan wajib menggenapkan bulan sebelumnya menjadi 30 hari.

2- Ibadah ijtima'iyyah (bersama) semisal puasa, lebaran, dan berkurban itu penetapan waktunya nya haruslah penguasa dan bukan kelompok apalagi perorangan.

3- Puasa hari arofah tidaklah harus identik dengan bertepatannya dengan peristiwa wukuf di arofah , karena yang di maksud oleh hadits puasa hari arofah  adalah sekedar menunjukan hari yang ke-9  bulan Dzulhijjah, sebagaimana hari ke-8 dzulhijjah dinamakan hari tarwiyah, hari ke-10 dinamakan hari nahar, hari ke-11 sampai 13  dzulhijjah dinamakan hari tasyriq, hal ini sebagaimana kebiasaan orang arab menamakan sesuatu waktu  kepada peristiwanya

4- Rasulullah bersabda tentang penentuan awal ramadan:

إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا, وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا, فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ

“Jika kalian melihat hilal, maka berpuasalah. Jika kalian melihatnya lagi, maka berhari rayalah. Jika hilal tertutup, maka genapkanlah (bulan Sya’ban menjadi 30 hari).” ( HR. Bukhari no. 1906 dan Muslim no. 1080).

Karena munculnya hilal dinegara- negara itu berbeda- beda waktunya, maka masing negara merujuk hasil rukyah masing- masing yang berbeda dan itulah perintah Nab shalallahu alaihi wasallam

5- Sudah terjadi sejak zaman para sahabat  perbedaan awal bulan karena perbedaan waktu terlihatnya hilal,  sebagai bukti, dahulu Ummu Fadhl menyuruh Kuraib menemui Muawiyah di negeri Syam, untuk menyelesaikan urusan. Setelah selesai urusan Kuraib melihat hilal ramadan malam jumat di negeri Syam,  Kemudian setibanya di Madinah,  Ibnu Abbas -radhiyallahu anhuma- bertanya kepada Kuraib“Kapan kamu melihat hilal?”. Kuraib menjawab," malam Jumat.” “Kamu melihatnya sendiri?”, tanya Ibnu Abbas. “Ya, saya melihatnya dan penduduk negeriku melihatnya. Mereka puasa dan Muawiyah pun puasa.” Jawab Kuraib.

Ibnu Abbas menjelaskan,

لَكِنَّا رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ السَّبْتِ فَلاَ نَزَالُ نَصُومُ حَتَّى نُكْمِلَ ثَلاَثِينَ أَوْ نَرَاهُ

“Kalau kami melihatnya malam Sabtu. Kami terus berpuasa, hingga kami selesaikan selama 30 hari atau kami melihat hilal Syawal.”

Kuraib bertanya lagi, “Mengapa kalian tidak mengikuti rukyah Muawiyah dan puasanya Muawiyah ldi negeri Syam)?”

Jawab Ibnu Abbas,

لاَ هَكَذَا أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-

“Tidak, seperti inilah yang diperintahkan oleh Rasulullah kepada kami.” (HR. Muslim 1087).

Kisah ini menunjukkan bahwa hilal di negeri kita tidak harus sama dengan hilal Saudi Arabia,
Demikian pula untuk hilal bulan selain ramadan seperti 1dzulhijjah dan lainnya.

6- Sejak dulu dan ini sudah berulang-ulang sekian lama,  terjadinya perbedaan tanggal antara satu negara dengan negara yang lain disebabkan perbedaan waktu munculnya hilal, dan dipastikan berita wukuf di Arafah tidak akan sampai ke negeri lain kecuali setelah berhari-hari,  atau berpekan-pekan,  bahkan berbulan- bulan,  karena terkendalanya alat komunikasi yang belum canggih seperti sekarang,  dan Allah maha mengetahui kondisi seperti ini, dan ternyata Allah dan Rasul-Nya tidak pernah mengoreksi perbedaan tanggal ini karena memang ini tidak perlu disoal,  dan syariat dulu dengan sekarang ini berlaku sama,  meskipun sekarang alat komunikasi sudah canggih.

7- Mengikuti hilal lokal, dan kalender negeri masing- masing itu lebih memudahkan kaum muslimin dalam pelaksanaan ibadah mereka , dan lebih menyatukan umat,  apalagi Nabi menganjurkan supaya masyarakat berpuasa dengan cara bersamaan,  tidak berbeda- beda,  beliau bersabda;

الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ، وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ

“Puasa itu dilakukan pada hari ketika masyarakat berpuasa. Berhari raya (Idul Fitri) dilakukan ketika masyarakat  berhari raya Idul Fitri, dan hari raya Idul Adha itu dilaksanakan ketika masyarakat berhari raya Idul Adha.” (HR. Tirmidzi no. 697)

8- Sudah dimaklumi bahwa hilal itu bisa berbeda- beda waktu munculnya di negara- negara yang berbeda,  jika puasa arafah harus mengikuti waktu wukuf di arafah,  maka tidak berlaku hadits berikut;

إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلاَ يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئً

“Jika telah masuk 10 hari pertama dari Dzulhijjah dan salah seorang di antara kalian ingin berkurban, maka janganlah ia memotong rambut kepala dan rambut badannya (diartikan  juga: kuku) sedikit pun juga.” (HR. Muslim no. 1977)

Karena larangan yang disebut dalam hadits berlaku jika sudah terlihat hilal Dzulhijjah, maka demikian pula untuk puasa Arafah berpatokan pada hilal lokal yang terlihat dan bukan pada waktu pelaksanaan wukuf.

9- Syaikh Muhammad bin Salih Al ‘Utsaimin -rahimahullah-  ketika ditanya tentang puasa arafah tatkala ada perbedaan  penetapan hari Arafah disebabkan perbedaan mathla’ (tempat terbit) hilal karena pengaruh perbedaan daerah,  apakah puasa arafah mengikuti ru’yah negeri sendiri ataukah mengikuti ru’yah Haramain (dua tanah suci)?”

Syaikh  menjawab, yang kesimpulannya; “Permasalahan ini adalah turunan dari perbedaan ulama apakah hilal yang tampak itu berlaku untuk seluruh dunia, ataukah berbeda-beda mengikuti perbedaan daerah.  Maka Pendapat yang benar,  hilal itu berbeda-beda mengikuti perbedaan daerah? Puasa Arafah mengikuti penanggalan atau penglihatan hilal di negeri masing-masing dan tidak harus mengikuti wukuf di Arafah. Begitu pula dalam Idul Adha, sebaiknya mengikuti negeri masing-masing. Kita harus berlapang dada karena para ulama berselisih dalam memberikan jawaban masalah ini, berlapang dada itu baik, namun mengikuti keputusan pemerintah itu lebih baik karena mereka telah menjalankan sunnah Rasul (dalam menentukan masuk awal dan akhir bulan)  (Lihat Majmu' Fatawa Syaikh al-utsaimin 20/47-48) (Tambahan faedah dari guru kami Al Ustadz Muhammad Ali Abu Ibrahim -hafidzahullah-)



=======================


Tambahan dari Artikel Ust Abu Ubaidah As Sidawi



HARI ARAFAH DAN IEDUL ADHA IKUT SIAPA ?

Oleh : Al Ustadz Abu Ubaidah Muhammad Yusuf As Sidawi -hafidzahullah-

Bila terjadi perbedaan keputusan awal Dzulhijjah yang otomatis berbeda juga hari Arofah dan Idhul Adha-nya antara Pemerintah Saudi Arabia dan Pemerintah kita seperti yang terjadi tahun ini 1439 H, dimana terjadi perbedaan keputusan antara Saudi dengan Indonesia.  Hari ahad ini 12 Agustus sudah tanggal 1 Dzulhijjah di Saudi,  sedangkan keputusan Kemenag adalah besok Senin Agustus.  Bagaimana menyikapinya?!!

Kaum musliminin biasanya akan berbeda pendapat dalam sikap sebagai berikut:

- Ada yang ikut pemerintah dalam Arofah dan idhul adha secara mutlak
- Ada yang ikut Saudi Arabia dalam Arofah dan idhul adha secara mutlak
- Ada yang ikut Saudi Arabia dalam Arofah saja, sedangkan idhul adha tetap ikut pemerintah.

Masalah ini masalah yang diperselisihkan ulama.  Adapun pendapat yang kuat menurut kami adalah tetap ikut Negara masing-masing dengan beberapa argumen kuat  sebagai berikut:

1. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah:

الصَّوْمُ يَوْمَ يَصُوْمُ النَّاسُ وَالْفِطْرُ يَوْمَ يُفْطِرُ النَّاسُ

Puasa itu hari manusia berpuasa dan hari raya itu hari manusia berhari raya.

Perhatikanlah, Nabi tidak membedakan antara idhul fithri dan idhul adha. Abul Hasan as-Sindi berkata dalam Hasyiyah Ibnu Majah: “Dhohir hadits ini bahwa masalah-masalah ini (puasa, idhul fithri dan idhul adha) bukan urusan pribadi, tetapi dikembalikan kepada imam dan jama’ah. Dan wajib bagi personil untuk mengikuti imam dan jama’ah. Oleh karenanya, apabila seorang melihat hilal lalu imam menolak persaksiannya, hendaknya dia tidak mengikuti pendapatnya tetapi dia harus mengikuti jama’ah dalam hal itu”.

2. Hal ini sesuai dengan kaidah-kaidah Islam:

حُكْمُ الْحَاكِمِ يَرْفَعُ الْخِلاَفَ
Keputusan hakim menyelesaikan perselisihan.

Oleh karenanya, para fuqoha’ menegaskan bahwa hukum/keputusan pemerintah dalam masalah ini menyelesaikan perselisihan dan perbedaan pendapat, karena hal ini akan membawa kemaslahatan persatuan kaum muslimin yang juga merupakan kaidah agung dalam Islam. (Lihat Al-Istidzkar Ibnu Abdil Barr 10/29 dan Rosail Ibnu Abidin 1/253).

Alangkah bagusnya ucapan Imam asy-Syaukani tatkala mengatakan: “Persatuan hati dan persatuan barisan kaum muslimin serta membendung segala celah perpecahan merupakan tujuan syari’at yang sangat agung dan pokok di antara pokok-pokok besar agama Islam. Hal ini diketahui oleh setiap orang yang mempelajari petunjuk Nabi yang mulia dan dalil-dalil Al-Qur’an dan sunnah”. (Al-Fathur Robbani 6/2847-2848).

 Inilah pendapat yang dikuatkan oleh Syaikhu Masyakhina Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, beliau berkata: “Demikian juga hari Arofah, ikutilah negara kalian masing-masing”. Kata beliau juga: “Hukumnya satu, sama saja (baik dalam idhul fithri maupun idhul adha)”.(Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu Utsaimin 19/41, 43).

JAWABAN TERHADAP PENDAPAT YANG TIDAK MENGIKUTI PEMERINTAH

Adapun pendapat yang menyatakan bahwa Arofah ikut Saudi karena Arofah itu berkaitan dengan tempat, sedangkan Arofah hanya ada di Saudi Arabia, maka pendapat ini perlu ditinjau ulang kembali, karena beberapa hal:

Pertama: Akar perbedaan ulama dalam masalah ini bukan karena Arofah itu berkaitan dengan tempat atau tidak, tetapi kembali kepada masalah ru’yah hilal Dzulhijjah, apakah bila terlihat di suatu Negara maka wajib bagi Negara lainnya untuk mengikutinya ataukah tidak?! Dengan demikian, maka patokan Arofah adalah tanggal sembilan Dzulhijjah, adapun istilah “Arofah” hanya sekedar  mim bab Taghlib (kebanyakan saja). Marilah kita cermati hadits berikut:

فَإِذَا أُهِلَّ هِلاَلُ ذِي الْحِجَّةِ فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّيَ

Apabila hilal Dzulhijjah telah terlihat, dan salah seorang diantara kalian hendak berkurban, maka janganlah ia mengambil rambut dan kukunya sedikitpun hingga ia menyembelih kurbannya. (HR.  Muslim)

Hadits ini sangat jelas menunjukkan bahwa patokannya adalah terlihatnya hilal Dzilhijjah.

Kedua: Kalau akar permasalahannya adalah karena tempat, hal itu berarti semua kaum muslimin harus mengikuti ru’yah Dzulhijjah Saudi Arabia, sedangkan hal ini tidak mungkin kalau tidak kita katakan mustahil, Karen Para ulama falak -seperti dinukil oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah- telah bersepakat bahwa mathla’ hilal itu berbeda-beda. Dengan demikian maka mustahil bila semua kaum muslimin di semua Negara ikut ru’yah Saudi Arabia, karena dimaklumi bersama bahwa antara jarak antara Negara bagian barat dan timur sangat jauh sehingga menyebabkan perbedaan tajam tentang waktu terbit dan tenggelamnya matahari, mungkin matahari baru terbit di suatu tempat sedangkan dalam waktu yang bersamaan matahari di tempat yang lain akan terbenam?! Lantas, bagaimana mungkin semua kaum muslimin sedunia bisa berpuasa dan hari raya dalam satu waktu?!! (Qodhoya Fiqhiyyah Mu’ashiroh, Muhammad Burhanuddin hlm. 98-99. Lihat pula Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu Utsaimin 19/47).

Ketiga: Kalau semua kaum muslim sedunia harus mengikuti ru’yah Saudi dalam Arofah, kita berfikir jernih dan bertanya-tanya: Kalau begitu, bagaimana dengan orang-orang dulu yang tidak memiliki Hp atau telpon seperti pada zaman sekarang?! Apakah mereka menunggu khabar dari saudara mereka yang berada di Arofah saat itu?! Apakah perbedaan seperti ini hanya ada pada zaman kita saja?! Bukankah perbedaan seperti sudah ada sejak dahulu?!
Al-Hafizh Ibnu Rojab menceritakan bahwa pada tahun 784 H terjadi perselisihan di Negerinya tentang hilal Dzul Qo’dah yang secara otomatis terjadi perbedaan tentang hari Arofah dan idhul adha-nya. (Risalah fi Ru’yati Dzil Hijjah (2/599 -Majmu Rosail Ibnu Rojab-).

Karenanya, di zaman Ibnu Hajar terjadi perbedaan antara penduduk mekah dan penduduk Mesir dalam menentukan hari Arofah dan hari raya 'Idul Adha.
Demikian juga Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, beliau berkata: "Tatkala itu wuquf (padang Arofah) di Mekah hari jum'at -setelah terjadi perselisihan-, sementara hari raya
adha di Qohiroh (Mesir) adalah hari jum'at". (Inbaa' Al-Ghomr bi Abnaa' al-Umr fi At-Taariikh 2/425).
Seandainya para ulama dulu ikut ru’yah Saudi Arabia, lantas kenapa ada perselisihan semacam ini?!

Keempat : Jika memang yang ditujukkan adalah menyesuaikan dengan waktu wukufnya para jama'ah haji di padang Arofah (dan bukan tanggal 9 Dzulhijjah berdasarkan masing-masing negeri), maka bagaimanakah cara berpuasanya orang-orang di Sorong Irian Jaya, yang perbedaan waktu antara Mekah dan Sorong adalah 6 jam?. Jika penduduk Sorong harus berpuasa pada hari yang sama -misalnya- maka jika ia berpuasa sejak pagi hari (misalnya jam 6 pagi WIT) maka di Mekah belum wukuf tatkala itu, bahkan masih jam 12 malam. Dan tatkala penduduk Mekah baru mulai wukuf -misalnya jam 12 siang waktu Mekah-, maka di Sorong sudah jam 6 maghrib?. Lantas bagaimana bisa ikut serta menyesuaikan puasanya dengan waktu wukuf?? (dinukil dari http://firanda.com/index.php/artikel/fiqh/786-kapan-puasa-arofah)

Kelima : Jika seandainya terjadi malapetaka atau problem besar atau bencana atau peperangan, sehingga pada suatu tahun ternyata jama'ah haji tidak bisa wukuf di padang Arofah, atau tidak bisa dilaksanakan ibadah haji pada tahun tersebut, maka apakah puasa Arofah juga tidak bisa dikerjakan karena tidak ada jama'ah yang wukuf di padang Arofah? Jawabannya tentu tetap boleh dilaksanakan puasa Arofah meskipun tidak ada yang wukuf di padang Arofah. Ini menunjukkan bahwa puasa Arofah yang dimaksudkan adalah pada tanggal 9 Dzulhijjah.

Ala kulli hal (bagaimanapun juga), kami sangat menyadari bahwa masalah ini adalah masalah khilafiyyah mu’tabar, namun sebagai usaha persatuan kaum muslimin, kami menghimbau agar kaum muslimin tidak menyelisihi pemerintah mereka masing-masing karena hal itu berdampak negatif yang tidak sedikit, apalagi ini merupakan himbaun Majlis Ulama Indonesia (MUI) dan Kemenag yang dalam hal ini mewakili pemerintahan Indonesia. (Lihat Himpunan Fatwa Majlis Ulama Indonesia hlm. 42)

Sebagaimana juga kami menghimbau kepada para dai dan mubaligh serta para ustadz untuk menanamkan kepada masyarakat agar cerdas dalam menyikapi perbedaan dan berlapang dada dalam menyikapi perbedaan seperti ini.

Bila ada yang berkata: “Pendapat ini berarti menjadikan pemerintah sebagai Tuhan selain Allah”. Maka kami katakan: Ini meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya, ucapan ini kalau memang pemerintah merubah ketentuan syari’at lalu kita mengikutinya, adapun masalah kita sekarang adalah masalah ijtihadiyyah dan khilafiyyah yang mu’tabar, maka sangat tidak tepat sekali ucapan di  atas diletakkan dalam masalah ini. Wallahu A’lam. (lihat Risalah fi Hilal Dzil Hijjah kry  Ibnu Rojab 2/608).

About Muhammad Danu Kurniadi

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.