AQIDAH & MANHAJ

Ilmu Yang Harus Dipelajari Seorang Muslim




Oleh : Muhammad Danu Kurniadi

            Kita sering menjumpai banyak manusia, ketika dia membeli suatu barang yang mewah nan mahal, dia berhati-hati dalam memakainya. Sampai-sampai dia rela meluangkan waktunya untuk mempelajari buku petunjuk dari barang tersebut, karena takut akan merusak barang yang mewah itu jika dia salah dalam menggunakannya.
            Namun dilain sisi, betapa banyak kita jumpai manusia yang dia tidak berhati-hati dalam menggunakan usianya, padahal usianya jauh lebih berharga dari barang mewah yang dimilikinya, bahkan dia tidak mau meluangkan waktu untuk mempelajari buku petunjuk hidupnya, agar hidupnya menjadi lebih terarah dan tidak berujung pada kebinasaan. Padahal Allah Tabaraka Wa Ta’ala berfirman:
ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيْهِ هُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ
“Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al Baqarah: 2). Allah Ta’ala juga berfirman:l
إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هيَ أَقْوَمُ
“Sesungguhnya Al-Qur`ân ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus ….(QS. Al-Isra’ : 9)
            Maka bagaimana mungkin seorang rela meluangkan waktunya untuk mempelajari buku petunjuk bagi barang mewahnya, namun enggan untuk mempelajari buku petunjuk bagi jiwanya yang tentunya jauh lebih berharga. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
طلب العلم فريضة على كل مسلم
“Menuntut Ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR. Ibnu Majah No. 224, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir No. 3913)
Selain mewajibkan kaum muslimin untuk menuntut ilmu, Islam pun memberikan berbagai keutamaan besar bagi orang yang menuntut ilmu. Di antara keutamaan menuntut ilmu adalah:
1.    Allah mengangkat derajat orang yang berilmu. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfiman:
يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (Q.S. Al Mujadalah : 11)
2.    Allah akan memudahkan jalan ke Surga bagi orang yang berilmu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له به طريقا إلى الجننة
“Barangsiapa yang menempuh suatu perjalanan untuk menuntut ilmu, maka Allah mudahkan baginya jalan menuju surga”. (HR.
3.    Menuntut ilmu lebih utama daripada ibadah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
فضل العلم خير من فضل العبادة وخير دينكم الورع
“Keutamaan ilmu lebih baik daripada keutamaan ibadah. Dan yang paling baik dalam agama kalian adalah al wara’ (ketakwaan)”. (HR. Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Awsath No. 3972. Dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib Wat Tarhib No. 68).
            Menurut para Ulama, ilmu yang dijelaskan dalam ayat-ayat dan hadis-hadis tentang kewajiban mempelajarinya, keutamaannya dan celaan bagi orang yang tidak mempelajarinya adalah ilmu agama, bukan ilmu-ilmu selainnya. Imam Abdullah bin Mubarak rahimahullah ketika ditanya tentang makna hadis “menuntut ilmu hukumnya wajib bagi setiap muslim”, beliau berkata:
إِنَّمَا طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ أَنْ يَقَعَ الرَّجُلُ فِيْ شَيْءٍ مِنْ أُمُوْرِ دِيْنِهِ فَيَسْأَلُ عَنْهُ حَتَّى يَعْلَمَهُ
“Sesungguhnya mempelajari ilmu yang hukumnya wajib adalah ketika seseorang tidak mengetahui tentang perkara agamanya, maka dia bertanya tentangnya sampai mengetahuinya”.
Imam Al Baidhowiy rahimahullah juga berkata tentang hadis di atas:
الْمُرَادُ مِنَ اْلعِلْمِ هُنَا مَا لَا مَنْدُوْحَةَ لِلْعَبْدِ عَنْ تَعَلُّمِهِ كَمَعْرِفَةِ الصَّانِعِ وَالْعِلْمِ بِوَحْدَانِيَّتِهِ وَنُبُوَّةِ رَسُولِهِ وَكَيْفِيَّةِ الصَّلاَةِ فَإِنَّ تَعَلُّمَهُ فَرْضُ عَيْنٍ
“Yang dimaksud dengan ilmu (yang wajib dipelajari) disini adalah ilmu yang seorang tidak boleh untuk tidak mempelajarinya, seperti mengetahui tentang pencipta dan keesaan-Nya, kenabian rasul-Nya, tata cara shalat. Sesungguhnya mempelajari itu adalah wajib ‘ain (wajib bagi setiap individu)”.[1]
            Di antara ilmu yang wajib dipelajari oleh seorang muslim adalah ilmu tentang Tauhid yaitu bagaimana seorang hamba mengesakan Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun dalam beribadah. Karena tauhid memiliki urgensi yang besar bagi seorang muslim, di antaranya:
1.    Tauhid merupakan kewajiban pertama dan terakhir bagi setiap manusia
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mengutus Muadz bin Jabal untuk berdakwah ke Negeri Yaman, beliau bersabda :
إنك تأتي قوما من أهل الكتاب فليكن أول ما تدعوهم إليه شهادة أن لا إله إلا الله – وفي رواية : إلي أن يوحدوا الله

“Sesungguhnya kamu akan mendatangi kaum Ahli Kitab, maka hendaklah dakwah yang pertama kali engkau serukan kepada mereka adalah syahadat Laa ilaaha illallah (dalam riwayat lain disebutkan: agar mereka mentauhidkan Allah).” (HR. Bukhari dan Muslim)

من كان آخر كلامه لا إله إلا الله دخل الجنة
“Barang siapa yang perkataan terakhirnya Laa ilaaha illalloh niscaya masuk urge”. (HR. Abu Dawud, dan dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashabih 1/509).

2.    Tauhid merupakan ilmu yang dibutuhkan seorang hamba di alam kuburnya.
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah berkata:
إذا قيل لك ما الأصول الثلاثة التي يجب على الإنسان معرفتها ؟ فقل معرفة العبد ربه ودينه ونبيه محمد صلى الله عليه وسلم
Apabila engkau ditanya: “Apakah tiga landasan pokok yang wajib diketahui oleh setiap manusia ?”. Maka jawablah, “seorang hamba harus mengenal Rabbnya, mengenal agamanya, mengenal Nabinya yaitu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam”.[2]

Seorang tidak akan bisa menjawab pertanyaan di alam kubur, sampai dia mengenal Allah, mengenal agamanya dan mengenal nabinya. Dan seorang tidak dikatakan mengenal Allah, sampai dia memberikan hak-hak  Allah atasnya, dan hak Allah atas hambanya adalah mengesakan-Nya serta tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
حق الله على العباد أن يعبدواه ولا يشركوا به شيئا وحق العباد على الله ألا يعذب من لا يشرك به شيئا
“Hak Allah atas hamba-Nya adalah mengibadahinya dan tidak menyekutukannya, dan hak seorang hamba atas Allah adalah tidak diadzab jika menyekutukannya dengan sesuatu apapun”

3.    Tauhid merupakan salah satu penentu nasib seorang hamba di akhirat
Barangsiapa yang mentauhidkan Allah maka dia akan masuk surga, dan barangsiapa yang kesyirikan maka dia akan masuk neraka. Rasulullah ‘alaihisholatu wassalam bersabda:
 من لقي الله لا يشرك به شيئا دخل الجنة ومن لقيه يشرك به شيئا دخل النار
“Barang siapa berjumpa dengan Allah (di akherat) dalam kondisi tidak berbuat syirik maka akan masuk surga, dan barang siapa berjumpa dengan-Nya dalam kondisi berbuat syirik maka masuk neraka”. (HR. Muslim No. 93)

Ketika Allah Tabbaraka Wa Ta’ala berfirman:
يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ  إِلاَّ مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ
“(Yaitu) dihari harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih/selamat”. (QS. Asy Sya’ara : 88-89). Maka Imam Ibnu Katsir menafsirkan yang dimaksud hati yang bersih/selamat adalah
سالم من الدنس والشرك
“Bersih dari dosa dan kesyirikan”.[3]



[1]  Raid bin Shabri bin Abi ‘Ulfah, Syuruh Sunan Ibnu Majah (Amman: Bait Al Afkar Ad Dauliyah, 2007), 155.
[2] Muhammad bin Abdul Wahab, Kitab Al Ushul Ats Tsalatsah.
[3] Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’an Al ‘Adzim (Kairo: Darul Hadits, 2011), 3/417.

About al-mudarris.com

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.